«

»

Oct 23

Agrobisnis Dan Agrokultur Via Pesantren

Agrobisnis Dan Agrokultur Via Pesantren

Oleh : Hadi Winarto, Jember 22 Oktober 2019

Konsep AGRO dilingkungan pondok pesantren sudah banyak dilakukan dengan “style” nya masing masing. Penulis juga sudah mendesign dengan sudut terapan yang disesuaikan potensi SDM dan SDA.

Konsep ini adalah agrobisnis terpadu (integrated farm) dengan tujuan

  1. A. Membentuk mata rantai makanan dari lebih dari satu kombinasi komoditi (budidaya).
    B. Membuat pakan dan pupuk alternatif hingga biaya cost terpangkas hingga 60-90%.

Beberapa kombinasi budidaya :

  1. Ternak puyuh :

Menghasilkan telor puyuh, menghasilkan feses puyuh dan jika ditreatment dengan mikroba tertentu bisa digunakan untuk pakan lele 10-20% dan pupuk tanaman.

  1. Ternak lele :

Akan menghasilkan limbah ikan dan limbah air yang menghasilkan nitrogen tinggi. Produk produk olahan dari lele ini sudah menembus pasar ekspor.

  1. Sistem mina padi :

Sistem ini menghasilkan pendapatan 3-5 kali lipat dibandingkan dengan hanya bercocok tanam padi konvensional. Mina padi, kombinasinya bisa padi dengan koi, padi dengan ikan nila dll.

  1. Sistem polikultur :

Polikutur setingkat lebih maju dibanding mina padi. Polikultur bisa menghasilkan 6-8 kali lipat dibandingkan monokultur. Kombinasi polikultur bisa ikan nila, mujaer dengan udang galah, udang windu atau udang vanamei.

  1. Beternak cacing lumbrikus :

Cacing itu multi nutrisi. Sebagai penghasil protein, asam amino, antibiotik, antibodi. Enzim lumbrokinase berperan didunia farmasi. Cacing meningkatkan hasil jamur tiram, pupuk ajaib jika di combine dengan mikroba dan micro-organisme seperti algae.

  1. Kultur algae (micro-organisme) :

Algae adalah nutrisi masa depan. Algae tinggi protein, tinggi asam amino lengkap. Kandungan leusin pada chlorella pyrenoidosa hingga 5,26% menjadikan ganggang hijau mampu menangani problem kesehatan dan pertumbuhan makhluk hidup.

  1. Beternak sapi.

Beternak sapi akan menghasilkan feses sapi sebagai pupuk dan cacing sebagai sumber nutrisi.

  1. Tanamlah pohon :

Kelor (protein dan antibiotik)

Kenikir (kolsikina)

Daun sungsang (kolsikina)

Kemangi (antibiotik)

Daun sirih (antibiotik)

Lidah buaya (asam amino)

Tapak dara (kolsikina)

Turi (nitrogen 8,5%)

Kates (protease, antibiotik, vitamin)

Pisang (asam amino, karbohidrat)

Nenas (bromelin)

Kelapa (auksin, giberelin, sitokinin)

Kunyit (kurkumin, antibiotik)

Kucai (zpt)

Mengkudu (antibiotik, karbohidrat, vitamin)

Semua tanaman ini adalah sumber enzim, zpt, probiotik, antibiotik. Tanaman ini cukup ditanam masing-masing 10-20 pohon dipinggir lahan atau cukup 10% dari luas lahan. Jika terlaksana, anda tidak lagi memerlukan produk produk komersil seperti enzim, antibiotik, pupuk air persiapan kolam, enzim gigantisme, hormon auxin, giberelin, sitokinin, pestisida, insektisida. Tanaman ini adalah starter untuk membentuk mata rantai pakan dan pupuk atau anda sudah membangun pabrik pakan dilingkungan pesantren. Tanaman ini penghasil mikroba positif yang murah. Daun kates untuk pakan puyuh, ikan dan pupuk air, batang kates untuk antibiotik, buah kates sebagai enzim protease yang serbaguna. Di pasar internet enzim protease seharga 2,5-3,5, juta/kg. Enzim protease bisa diolah dengan modal rp.50.000/kg.
Coba anda klik di pak Gugel berapa harga hormon giberelin, auxin, sitokinin, methiltesteteron. Sangatlah mahal. Tanaman tanaman inilah sebagai pembentuk zoo-plankton waktu persiapan kolam.

  1. Zooplankton

Penulis memasukkan daphnia saat persiapan kolam dan pakannya chlorella. Seminggu kemudian seluruh air kolam full daphnia. Trial and error kembali kami lakukan dgn 3 kolam.

Kolam 1                :               Hari ke-3 baru kami kasih makan.

Kolam 2                :               Hari ke-7 baru kasih makan.

Kolam 3                :               Hari ke 10 baru dikasih makan.

Hasilnya ??? Kolam 1,2 dan 3 ternyata pertumbuhannya sama. Sama besar.

Kultur micro-alga, chlorella pyrenoidosa

ccccccc

Geo-membran, Kolam modern dan unggul

geomembran

Sistem polikultur, perpaduan nila dan udang galah. di pati jateng.

udggalah

Agrobisnis Dan Agrokultur Via Pesantren

Secara umum konversi pakan lele adalah 1:1. Panen 1kg menghabiskan pakan 1kg.
Jika dibuat pakan alternatif dari cacing, kates, kelor dan mengatasi hingga 80% kebutuhan pakan. Bukankah pakan pabrik komersil hny membutuhkan 20% saja.
Adakah yg sudah berhasil ? Tentu sudah banyak. Saat ini banyak diternak cacing lumbrikus di sudut lahan. Ukuran rumah cacing 4mx2mx2m mampu menghasilkan cacing 100kg. Jika angka nutrisi cacing 2x lipat dari pakan pabrik artinya telah terjadi penghematan 200kg atau senilai rp.2.000.000/hr.
Side effect lainnya adalah ikan dan unggas yang diberi asupan 1% saja dari total biomassa pakan akan meningkatkan survival rate ternak atau melipat gandakan panen jamur tiram.
Kascing akan meningkatkan panen padi hingga 20-40%.
Kascing plus mikroba plus kelor dan chlorella andal sebagai pupuk air penumbuh plankton saat persiapan air.

Seberapa banyak cacing, chlorella, pisang, kelor dan kates yang anda budidayakan disitulah HPP (Harga pokok produksi) ditentukan.

Simpul dari Agrobisnis Dan Agrokultur Via Pesantren adalah :
Pakan bukanlah variabel penentu pertumbuhan dan mortalitas. Faktor utama adalah mutu air pada kolam lele, air minum unggas atau ruminansia.

Sisi penting sistem ini adalah ponpes menjadi tempat santri mendapatkan ilmu agama, pengetahuan umum tapi substansi krusial lainnya :

  • Santri mendapatkan pembekalan agrobisnis.
  • Santri bisa dibekali sebagai trainer, dan ditingkatkan lagi menjadi training of trainer.
  • Wisata agro, etalase produk organik, forum agrobisnis.
  • Ponpes agro bisa dijadikan center of excellence nya agro.

Well … kalao kolam hari ke 10-15 baru dikasih makan. Sebaiknya daphnia, wolffia dan azolla anda masukkan dalam daftar program :

Agrobisnis Dan Agrokultur Via Pesantren

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>