«

»

Nov 12

Cacing ku-ATM ku

Cacing ku-ATM ku

“ Cacing ku -ATM ku ”, Semoga ini bukan sekedar slogan, tapi akan menjadi sesuatu yang harus dimiliki dan bisa dinikmati.

Cacing adalah hewan pengurai biasa, struktur tubuhnya sangat sederhana, jauh dari sempurna. Tanpa alat indera, tanpa alat gerak, tanpa alat peraba, bahkan juga tanpa alat perasa. Cacing tinggal di tempat yang jorok dan kotor, setiap saat bersanding dengan berbagai bakteri, kuman dan virus yang jahat, tapi anehnya cacing tetap tumbuh sehat, berkembang cepat dan kulitnya senantiasa mengkilat. Kita belum pernah mendengar wabah kematian masal yang terjadi pada cacing sebagaimana flu burung yang menimpa pada unggas, ataupun wabah pada hewan ternak lainnya.
Setiap ekor cacing dianugerahi alat kelamin ganda sehingga cacing bisa berkembang biak dengan sendirinya tanpa memerlukan tangan terampil kita untuk mengawinkan para indukan cacing. Cacing sudah dikatakan dewasa pada usia 1.5 – 2 bulan, selanjutnya mulai kawin dan bertelur, lalu mengeluarkan kokon dan satu kokon bisa berisi 2 – 14 ekor anakan cacing. Proses reproduksi ini berlangsung secara kontinyu setiap bulan sehingga menjamin terjadinya proses regenerasi tanpa henti.
Cacing adalah hewan pemakan sekaligus pengurai limbah organik, baik limbah organik yang bersumber dari rumah tangga, limbah peternakan, limbah home industry dan pabrikasi, limbah warung dan restauran, maupun limbah organik yang tersedia di lingkungan. Semua limbah organik ini ketersediaannya berlimpah ruah, tanpa ada satupun pihak yang mampu memonopoli limbah organik ini. Dengan memakan limbah organik ini, cacing akan berkembang biak, sekaligus melalui proses penguraian limbah organik ini, terbentuklah ‘vermi kompos’, salah satu pupuk organik murni alami dan berkualitas tinggi.
Kualitas cacing nya sendiri, sepertinya tidak perlu diragukan. Kandungan protein cacing lebih dari 60%, cacing mengandung asam amino yang lengkap dan seimbang, cacing mengandung acid lipid yang bisa dijadikan perisai pertahanan terhadap berbagai kuman dan virus, cacing mengadung enzim lumbrokinase yang sangat diperlukan dalam dunia pengobatan. Cacing mengandung zat atraktan, yaitu zat perangsang nafsu makan, yang sangat diperlukan dalam dunia perikanan dan peternakan. Dan dalam tubuh cacing tersimpan berbagai macam substansi pro-biotik yang diperlukan sebagai ‘booster’ pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Dengan kemampuan mengurai limbah 1:1, artinya 1 kg cacing mampu mengurai 1 kg limbah dalam 1 hari. Kalau kita punya 25 ton cacing, maka akan mampu mengurai 25 ton limbah/hari, sekaligus menyediakan pupuk vermi kompos sebanyak 7 –8 ton/hari. Hal ini tentu merupakan kabar baik bagi pemerintah sebagai solusi permasalahan limbah khususnya limbah organik.
Ketika kita punya cacing, sebenarnya secara otomatis, dimulailah konsep ‘Bio Cyclo Farming’, yaitu sebuah siklus bisnis alami berkesinambungan dan terus berkembang. Salah satu mitra kami mengaplikasikannya sebagai berikut : Dimulai dari beternak sapi (18 ekor sapi) sebagai penghasilan tahunan (dijual saat idul adha), kotoran sapi diberikan ke cacing, dan panen cacing per minggu (sebanyak 60 kg – 80 kg, harga jual cacing Rp 25.000/kg). Kotoran cacing dijadikan sebagai pupuk di kebun jeruk miliknya, dan dapat memanen jeruknya setiap 3 – 4 bulan. Saat ini mulai persiapan budidaya belut, karena kotoran cacing/kascing adalah media terbaik untuk belut, sedangkan cacingnya adalah makanan terbaik untuk belut. Cerita ini adalah nyata dan belum tahu bagaimana proses akhirnya, karena ide pengembangan bisnis alam ini terus terbuka tanpa ada tutupnya. Mitra kami yang lain juga banyak yang melakukan konsep integrated farming ini dengan model yang lain.
Kembali ke ‘beternak’ cacing. Dalam dunia peternakan, pertanian maupun perikanan, dikenal dua musuh bebuyutan yang bersifat laten dan selalu serius jadi beban pikiran, yaitu ‘penyakit’ dan ‘hama’. Dalam hal antisipasi penyakit, peternak cacing bisa mengandalkan cacing untuk mengatasinya, karena pun sampai saat ini tidak ada obat untuk penyakit cacing dan kami juga tidak pernah tahu penyakit apa yang pernah diderita cacing. Dalam hal antisipasi hama, peternak cacingpun juga bisa mengandalkan cacing untuk mengatasinya. Setidaknya kehilangan cacing akibat diserang hama, tidak akan sebanding dengan perkembangan cacing yang luar biasa. Kami pun mengembangkan cacing tanpa memilih-milih tempat, ada yang dilahan kebun sengon, di sawah, di garasi, di dapur, di halaman, di lantai 2, dan dimana saja sesuai dengan volume cacing yang dibudidayakan.
Sebagai penutup, semoga tidak berlebihan kalau cacing ini dianggap seperti ‘ATM’ yang asalkan tidak diambil ‘semuanya’, asalkan dirawat sebagaimana mestinya, asalkan teknologi pengolahan dan pemasaran cacing juga terus berjalan dan berkembang, maka ‘mesin hidup’ ini akan terus bereproduksi tanpa henti. Selamat mencoba.

Penulis : A. A Adam M

(081-230-933-235/ 081-793-909-989)
Pekerjaan : – Praktisi Industri Cacing,
– Owner CV RAJ Organik
(Lembaga khusus pengembangan bidang per-cacing-an)
Penulis buku cacing,
(Buku 1 : Beternak Cacing Ala Adam, bisa didapatkan di toko buku Gramedia setempat)
(Buku 2 : Cacingku – ATM ku, segera terbit ditoko buku Gramedia dan toko buku lainnya)
Untuk pemesanan (PO) buku Cacingku – ATM ku
-Langsung ke Penerbit PT. Agromedia Pustaka, Jakarta.
-Kantor CV RAJ Organik (discount 15% dari harga normal ditoko buku. (Alamat Jl S.Supriadi Gg.9 No.42 RT.7 RW.4 Sukun Malang Contact Ibu Solihah (085755699111)

Tambahan dari admin :

ATM yang dimaksud dari Mas Adam ini adalah Automatic Teller Machine bukan ATM (agroculture Treatment Machine) seperti yang banyak tertulis di situs ini. Silahkan baca juga judul artikel ini Agroculture Treatment Machine

Uji lapangan dan uji lab :

Lele

Pada bulan januari 2017 di Banyuwangi, di kolam semen ukuran 4x2x1 saya masukkan kascing (bekas cacing) setinggi 3-4 cm. Lalu saya beri air 100cm, dibiarkan selama 8 hari. Hari ke-3 kolam berubah warna menghasilkan zoo-plankton sebagai pakan alami yang kaya dengan nutrisi.

Hari ke-9 saya tebar benih lele uk. 7-9 sebanyak 1000 ekor. Tidak diberi makan selama 6 hari (karena cemas takut jadi kerdil) dan hari ke 7 hingga hari ke 17 saya beri makan kira-kira 1% dari bobot ikan. Pada kolam ke-2 yang tidak diberi kascing, juga tidak diberi makan selama 6 hari. Perbandingan secara acak bobot benih pada kolam pertama sekitar 2 lipat dibandingkan kolam tanpa perlakuan kascing.

Variabel lainnya tetap saya menggunakan resirkulasi, ozonisasi, enzimasi, pemupukan kolam saat persiapan kolam dan melakukan grading 2 kali hingga panen (ganti air hanya 2 kali saat grading)

Kolam pertama diperoleh  bobot lele 108kg dan menghabiskan pakan 72kg. Kolam kedua bobot 98kg dan menghabiskan pakan 75kg.  Saat diangkut oleh pengepul panen lele di 2 kolam itu tidak ada buih putih dan mortalitas 0% pertanda lele sehat dan organik.

Data lebih lanjut belum ada, saya uji coba lagi karena kesulitan kascing. Kedepan kami akan melengkapi riset ini dan melakukan analisa laboratorium, mengukur parameter terpenting seperti kadar 02, O3, pH, amoniak, disparitas temperatur, nitrat, nitrit dan jumlah bakteri pathogen (e-colli, salmonella, vibrio dan colli-form)

Optimis jika ditambahkan dengan treatment nanobubble agar kadar O2 setidaknya di 6-7 ppm. Keyakinan tentang peran enzim lumbrokinase yang melekat pada kascing ikut memicu pertumbuhan lele.

Unggas

Kita tahu bahwa bahan pakan berbasis hewani berprotein tinggi dibutuhkan oleh unggas untuk memicu pertumbuhan namun disisi lain bahan berprotein tinggi mahal harganya.
Dibeberapa kota di Blitar, Samarinda, Banjarmasin, Kuningan, Tulung Agung, Jember, Bojonegoro, Lumajang, Banyuwangi, Boyolali, Tegal bahkan sampai ke negeri jiran Brunei Darussalam, ransum pakan unggas (ayam joper, ayam broiler, puyuh, angsa, kalkun, bebek dan itik) saat ini banyak menggunakan enzim lumbrokinase. Melalui proses enzimatis dan ozonizer kadar nutrisi cacing semakin maksimal dan penggunaannya hanya 0,1% dari bobot pakan.

Mata rantai kehidupan

hormon2  jamur muklis

Media tanam jamur disebut baglog. Setelah jamur di panen, baglog afkir sangat bagus dijadikan media beternak cacing. Dengan catatan budidaya jamur bebas dari bahan kimia.

Setelah cacing di panen, media bekas cacing (kascing) pun bisa digunakan untuk pupuk, dimanfaatkan untuk media persiapan budidaya ikan, kascing untuk pupuk padi menghasilkan panen 6 ton per HA menjadi 8,1 ton per HA serta mengurangi urea 50% (di Bondowoso). Dalam hal ini enzim lumbrokinase turut menyempurnakan mata rantai kehidupan tak terbantahkan.

Cacing ku-ATM ku

4 comments

Skip to comment form

  1. adidas nmd r1

    There are some interesting points in time in this article however I don抰 know if I see all of them middle to heart. There is some validity however I will take hold opinion till I look into it further. Good article , thanks and we want more! Added to FeedBurner as well

  2. yeezys

    You made some decent points there. I seemed on the web for the problem and located most individuals will go together with with your website.

  3. yeezy shoes

    Whats up! I simply wish to give a huge thumbs up for the great information you’ve got here on this post. I shall be coming back to your blog for extra soon.

  4. golden goose outlet

    I just wanted to post a small comment to be able to express gratitude to you for all of the fabulous pointers you are writing at this site. My particularly long internet lookup has now been honored with reputable tips to share with my companions. I would express that many of us website visitors are unequivocally lucky to live in a useful website with many awesome individuals with useful advice. I feel somewhat happy to have seen your webpages and look forward to tons of more brilliant times reading here. Thanks a lot again for a lot of things.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>