«

»

Apr 12

CLUSTER AGROINDUSTRI TERPADU

CLUSTER AGROINDUSTRI TERPADU

(BIOETANOL – KEBUN SORGUM – PETERNAKAN SAPI)

YANG BERKELANJUTAN

PENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DAN ENERGI

Oleh : IrSupriyanto Hidayatullah

Ketua I Asosiasi Pengusaha Bioetanol Indonesia Skala UKM

Sejalan dengan mulai dikembangkan Bahan Bakar Nabati yang memanfaatkan beberapa komoditi tanaman pangan seperti tebu, singkong, kedelai, jagung, dan lain-lain, dikuatirkan menyebabkan kenaikkan harga komoditi tersebut secara global.  Sebenarnya bagi Indonesia sebagai Negara Agraris merupakan suatu peluang untuk mengembangkan komoditi-komoditi tersebut di seluruh wilayah Indonesia yang masih luas.  Apalagi dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti BBM dan Instruksi Presiden No 1 Tahun 2006 tanggal 25 Januari 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain.

Salah satu sumber bahan bakar nabati yang sangat potensial untuk menggantikan BBM adalah bioetanol (etil alkohol) yang dibuat dari biomassa (tanaman) melalui proses biology (enzimatik dan fermentasi). Ada berbagai jenis tanaman yang dapat dijadikan sebagai sumber bahan baku bioetanol, salah satu diantaranya yang paling potensial dikembangkan di Indonesia adalah tanaman sorgum manis (Sorgum bicolor L. Moench).  Pati yang terdapat pada biji sorgum dan nira dalam batang sorgum dapat dijadikan sebagai bahan baku bioetanol yang biayanya lebih murah. Selain itu daunnya dan sisa batang yang diambil niranya (bagasse) juga bisa dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak. Tanaman sorgum termasuk tanaman pangan (biji-bijian), tetapi lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak (livestock fodder).

Tanaman sorgum memiliki keunggulan tahan terhadap kekeringan dibanding jenis tanaman serealia lainnya. Tanaman ini mampu beradaptasi pada daerah yang luas mulai 45oLU sampai dengan 40oLS,  mulai dari daerah dengan iklim tropis-kering (semi arid) sampai daerah beriklim basah.  Tanaman sorgum masih dapat menghasilkan pada lahan marginal.  Budidayanya mudah dengan biaya yang relatif murah, dapat ditanam monokultur maupun tumpangsari, produktifitas sangat tinggi dan dapat diratun (dapat dipanen lebih dari 1x dalam sekali tanam dengan hasil yang tidak jauh berbeda, tergantung pemeliharaan tanamannya).  Selain itu tanaman sorgum lebih resisten terhadap serangan hama dan penyakit sehingga resiko gagal relatif kecil.  Tanaman sorgum berfungsi sebagai bahan baku industri yang ragam kegunaannya besar dan merupakan komoditas ekspor dunia (Sumarno dan S. Karsono, 1995).

Ada kekuatiran dalam pengembangan Bahan Bakar Nabati yang memanfaatkan beberapa komoditi tanaman pangan seperti tebu, singkong, kedelai, jagung, dan lain-lain, akan menyebabkan kenaikkan harga komoditi tersebut secara global. Sedangkan sorgum selama ini di Indonesia masih sebatas dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sehingga tidak perlu dikuatirkan apabila dimanfaatkan sebagai bahan baku Bahan Bakar Nabati khususnya bioetanol.  Pengembangan kebun sorgum selain untuk menyediakan bahan baku bioetanol dari batang dan bijinya, tepung sorgum juga dapat dimanfaatkan seabai alternatif diversifikasi dan subtitusi bahan pangan pokok seperti beras dan terigu.  Daun, sisa batang dan dedak biji sorgum mampu menyediakan pakan untuk mendukung pengembangan bidang peternakan untuk mengurangi ketergantungan import daging sapi dari luar negeri.

Pada proposal ini kebun sorgum  dikembangkan seluas 100 hektar dalam konsep Cluster Agro Industri terpadu yang berkelanjutan dengan mengkombinasikan beberapa unit bisnis (industri) yang saling mendukung.  Dalam hal ini Industri yang utama adalah Industri bioetanol skala home industri dengan kapasitas 200 liter per hari.  Industri lainnya yang akan dikembangkan adalah penggemukan sapi.  Berdasarkan potensi hijauan pakan ternak yang dihasilkan dapat mencukupi untuk penggemukan sapi sebanyak 300 ekor yang dipelihara selama 4 bulan.  Masih ada beberapa industri yang berpotensi untuk dikembangkan, misalnya pemeliharaan lebah, pemanfaatan kotoran sapi untuk biogas dan pupuk organik.

Hampir sebagian besar wilayah Indonesia sesuai untuk pengembangan budidaya sorgum sehingga sangat memungkinkan dibentuknya Cluster-cluster Industri Bioetanol di daerah-daerah.  Keberadaan Cluster-cluster Industri Bioetanol di daerah-daerah akan memberikan manfaat sebagai berikut :

þ    Optimalisasi potensi lahan marginal dan lahan di daerah beriklim tropis yang kering dengan mengembangkan kebun sorgum sebagai alternatif sumber bahan pangan dan energi;

þ    Pembuatan bioetanol sebagai bahan bakar nabati dari batang sorgum sehingga masih tersedia biji sorgum yang dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan pangan (mendukung Ketahan Pangan Nasional) dan juga sebagai bahan baku industri lainnya misalnya industri pakan ternak ;

þ    Menyerap tenaga kerja setempat dalam budidaya tanaman mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan dan panen;

þ    Meningkatkan pemasaran dan memberikan nilai tambah sorgum dan meningkatkan kesejahteraan bagi petani sorgum;

þ    Menggerakan perekonomian lainnya yang terkait seperti: perdagangan sarana produksi, transportasi, dll;

þ    Menyediakan sumber Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai bahan bakar alternatif khususnya untuk daerah – daerah yang sering mengalami kekurangan pasokan BBM.  Bioetanol dapat dimanfaatkan untuk menggantikan bahan bakar bensin dan minyak tanah.

Cluster agroindustri terpadu (Bioetanol – Kebun Sorgum – Peternakan Sapi) yang berkelanjutan secara ringkas dapat dilihat pada gambar 1,  sedangkan hasil perhitungan dan analisa ekonominya dirangkum dalam   tabel 1.  Secara garis besar profile unit-unit bisnis pendukung Cluster Agro Industri tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Unit Bisnis Budidaya Sorgum

Luas lahan yang direncanakan untuk unit bisnis ini adalah seluas 100 hektar dengan kapasitas produksi sebagai berikut :

  1. Luas kebun sorgum 100 hektar dibagi dalam 16 batch penanaman dengan luas masing-masing 6,25 ha ;
  2. Produksi rata-rata yang digunakan sebagai dasar perhitungan dan analisa ekonomi yaitu :
    • Biji sorgum25,0 ton per minggu yang akan diproses menjadi tepung sorgum sebanyak  16,7 ton dan hasil sampingan berupa dedak/menir sorgum sebanyak  8,3 ton  per minggu.  Dedak/menir ini dimanfaatkan sebagai bahan pakan terknak;
    • Batang  156,3 ton per minggu hanya akan dimanfaatkan sebanyak  31,2 ton untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pabrik bioetanol dengan kapasitas 200 liter per hari.  Batang sorgum sisanya sebanyak  125,1 ton per minggu dan bagas (ampas batang sorgum yang telah diambil niranya untuk pembuatan bioetanol) sebanyak  12,5 ton dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak;
    • Daun 71,9 ton  per minggu semuanya dimanfaatkan untuk pakan ternak.

Potensi pakan ternak tersebut diatas cukup untuk penggemukan sapi sebanyak  800 ekor yang dipelihara selama 4 bulan.  Namun dalam proposal ini sapi yang dipelihara hanya  400 ekor saja (50% dari kapasitas). Berdasarkan hasil analisis ekonomi budidaya sorgum manis ini sangat layak dijalankan, yaitu :

 

  • Kebutuhan Modal
:       Rp 2.474.236.370
  • Modal Sendiri (50,0%)
:       Rp 1.836.097.500
  • Pinjaman (50,0%)
:       Rp 1.237.600.000
  • Internal Rate of Return (IRR)
:                               81%
  • Pay Back Periode (PBP)
:                   1,07 tahun
  • Revenu/Cost (R/C Ratio)
:                               1,70
  • Break Even Point (BEP)
:         174.263  (20,1%)

 

  1. Unit Bisnis Produksi Bioetanol 99.5%

Kapasitas produksi bioetanol 95% yang direncanakan adalah  200 liter per hari  atau  64.800 liter per tahun, dengan bahan baku dari nira batang sorgum manis sebanyak  5,0 ton per hari atau  1.620,0 ton per tahun.  Bahan baku batang sorgum yang digunakan merupakan hasil tambahan (bonus) dari kebun sorgum, sehingga harganya bisa ditekan untuk memperoleh harga pokok produksi bioetanol yang kompetitif.   Pembuatan bioetanol ini merupakan salah satu proses untuk meningkatkan nilai tambah batang sorgum karena masih dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, bahan bakar atau pulp.  Berdasarkan hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa Unit Produksi Bioetanol ini layak untuk dijalankan, yaitu :

  • Kebutuhan Modal
:          Rp 919.105.059
  • Modal Sendiri (43,3%)
:          Rp 398.376.783
  • Pinjaman (56,7%)
:          Rp 520.728.276
  • Internal Rate of Return (IRR)
:                               27%
  • Pay Back Periode (PBP)
:                   3,06 tahun
  • Revenu/Cost (R/C Ratio)
:                               1,78
  • Break Even Point (BEP)
:           12.325  (19,0%)

 

 

  1. Unit Bisnis Penggemukan Sapi

Kapasitas Ubit Bisnis Penggemukan Sapi ini ditentukan berdasarkan ketersediaan pakan yang dihasilkan oleh Unit Bisnis Budidaya Sorgum dan Unit Bisnis Produksi Bioetanol. Volume pakan sapi yang tersedia terdiri dari:

  • Hasil sampingan penepungan sorgum berupa dedak/menir sorgum sebanyak 8,3 ton  per minggu;
  • Batang sorgum yang tidak diproses untuk bioetanol sebanyak 125,1 ton per minggu dan bagas (ampas batang sorgum yang telah diambil niranya untuk pembuatan bioetanol) sebanyak  12,5 ton ;
  • Daun 71,9 ton  per minggu semuanya dimanfaatkan untuk pakan ternak.

Dengan rata-rata kebutuhan hijauan pakan sebanyak  41 kg per hari maka jumlah pakan tersebut di atas cukup untuk memberi pakan sapi sebanyak  800 ekor .  Namun pada proposal ini sapi yang dipe;ihara hanya  400 ekor (50% dari kapasitas).  Berdasarkan hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa Unit bisnis Penggemukan Sapi ini layak untuk dijalankan, yaitu :

  • Kebutuhan Modal
:       Rp 4.907.997.000
  • Modal Sendiri (16,9%)
:          Rp 830.497.000
  • Pinjaman (83,1%)
:       Rp 4.077.500.000
  • Internal Rate of Return (IRR)
:                               36%
  • Pay Back Periode (PBP)
:                   2,20 tahun
  • Revenu/Cost (R/C Ratio)
:                               1,16
  • Break Even Point (BEP)
:           72.873  (12,9%)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>