«

Oct 29

Harta Karun Dari Sistem Polikultur

Harta Karun Dari Sistem Polikultur

Oleh : Eny GO, Pati 29 Oktober 2019

Tgl 6 Okt 2019. Saya hadir di tambak sistem polikultur ikan nila salin dan udang vanamae dengan perlakuan organik di desa Ngagel Kecamatan Dukuhseti Pati.

Saat cuaca ekstrim seperti ini, banyak tambak ikan di desa Ngagel di kecamatan Dukuh seti dibiarkan kosong melompong karena kuatir resiko mati ikan tinggi. Tapi di tambak pak Farid yang polikultur antara nila salin dan udang vanamae tidak ada kendala dengan cuaca buruk. Perlakuan kolam sebelum ditebari udang dan nila harus diolah dulu dengan cara :

 

  1. Pemupukan lahan selagi masih basah tanahnya dengan kompos 3G O.
  2. Dua hari kemudian kolam diisi air dengan kedalaman kurang lebih 15 cm.
  3. Satu minggu kemudian diisi air dengan kedalaman kurang lebih 70 cm dan diberi pupuk organik cair L 3G O.
  4. Satu minggu kemudian kolam bisa ditebari udang terlebih dahulu.
    5. Satu bulan kemudian baru ditebari ikan nila. Kepadatan tebar antara ikan dan udang adalah 1 : 10 atau 1 ikan, 10 udang. Ukuran benih yang ditebar 1 kg isi 100 ekor. Sumber benih dari Balai Benih Ikan (BBI)

Untuk perawatan atau pakan dengan pur/trambel ber protein minimal 28% yang difermentasi dulu dengan probiotik Bio Three selama minimal 3 hari. Pemberian pakan 1 hari sekali pada jam 09.00 – 11.00 wib.

 

Untuk panen bisa dengan 2 cara :

  1. Panen dengan trol, yaitu panen dengan tidak mengurangi debit air. Ikan bisa langsung ditroll dg jaring yg sdh dimodifikasi.
  2. Panen dengan cara dikuras airnya sampai habis baru diambil ikan dan udangnya. Menurut pak Farid yang paling bagus dengan cara B untuk panen. Ikan bisa dipanen dengan menyesuaikan kebutuhan pasar, yang umum dipasar untuk 1 kg isi ikan 3-6 ekor atau ukuran 7 – 12.

FCR (feed convertion ratio)

Untuk pakan dengan kadar protein 28-30% FCR nya 1:1. Sdg pakan kadar protein 31-33% FCR nya 1: 0,7.
Ini karena menurut pak Farid, perlakuan tambaknya organik dg probiotik, sehingga lebih tahan terhadap cuaca ekstrim. Keuntungan lain dari budidaya ikan nila dengan probiotik adalah waktu panen yang lebih cepat yaitu 2,5 bulan saja dari yang konvensional bisa 3,5 bln. Selain menghemat cost.
Dari nila modal 10rb/kg, panen bisa mendapatkan 22-24rb/kg. Sedang polikultur udang vanamae yang hidup di dasar kolam, modal bibit 1,5 juta kemaren dapat hasil 1 ton lebih atau Rp.76 juta.
Untuk pakan udang tidak dihitung karena sudah mendapatkan dari plankton2 yang hidup dari pupuk organik di dasar kolam dan dari sisa-sisa pakan nila. Jadi sebenarnya hasil yang terbesar dari udang vanamae nya. Kunci dari budidaya pak Farid, perlakuan probiotik yang difermentasi pada pakan sebelum disebar.
Nila salin dengan perlakuan probiotik rasanya lebih gurih & dagingnya lebih tebal. Ini salah 1 bukti bahwa perlakuan organik lebih unggul dan menghasilkan provit yang lebih tinggi dari konvensional.

Tehnologi untuk kolam polikultur ini dinamai tehnologi L 3G O sesuai dg nama formulatornya yaitu Lupus dari komunitas GaGe Go Organik / 3G O.
Tehnologinya berupa :

– Pupuk organik/hayati 3G O, yaitu murni dari kohe kambing dengan fermentasi mikroba tertentu.
– Pupuk organik cair L 3G O.
– Probiotik Bio Three.

Untuk tambak 1 ha butuh pupuk organiknya 30 karung kira-kira @25 kg. Kalau untuk tanam semangka per lubang bibit, pupuk organik 3G O nya 1 gelas.

Keuntungan lain dengan perlakuan organik, tambak airnya tetap jernih sehingga saat ikan menjelang panen, resiko kematian ikan rendah. Karena kwalitas air tetap terjaga jernih.

Survival rate kolam polikultur nila salin dan udang vanamae.
Kalo kita tebar benih yang besar akan kita dapatkan SR yang bagus, karena jarang yang dimakan predator (ular, burung dll). Keuntungan lain air tidak sampai keruh, ikan sudah panen.
Biasanya tebar benih 10gram/ekor didapat SR 75% dengan masa panen dari tebar yaitu 2 bln.
75% estimasi umum karena di kolam pak Farid SR nya bisa mencapai 90%.

Dalam 1 ha kolam polikultur :

  1. Tebaran udang vanamae 100rb ekor sebulan sebelum nila dengan PL 12 – 15. Tidak perlu diberi pakan karena kolam sudah subur dari kompos 3G O, sudah banyak plankton. Benih udang vanamae bisa dibeli dari BBAP Jepara atau pembenih udang di seputar Pati dengan harga Rp.15- Rp 20/ekor.
  2. Nila salin sebanyak 20rb ekor ukuran 3-5 dari BBI harga Rp. 75/ekor yang dipelihara dikolam kecil selama 1 bulan sehingga beratnya mencapai 10gram/ekor baru ditebar di kolam besar yang sudah ada udangnya sebulan yang lalu.

Perbandingan ini bisa disebut nila yang utama dengan hasil bila dr 20.000 ekor dengan SR 75% hasilnya/panen sekitar 3 ton @5 ekor/kg, harga bakul 22rb-25rb/kg.
Sedang panen udang sekitar 3 kwintal @60rb – 70rb/kg, tergantung size.

Komposisi seperti diatas lebih utama nilanya. Tapi bila udang yang lebih utama, jumlah nila dikurangi dengan tambahan pakan udang berupa jagung yang difermentasi.
Untuk komposisi 20ekor nila dan 100rb udang dalam 1 ha, pakan hanya untuk nila. Sedang udang tidak perlu diberi pakan krn sudah ada plankton dari kompos, tanah kolam yang subur, kotoran nila dan sisa pakan.
Dengan model polikultur & probiotik, resiko kegagalan panen kecil dengan keuntungan sekitar 40%.

Panen serentak di kolam besar terhitung dari tebar udang 3 bulan, tebar nila 2 bulan. Karena udang ditebar di kolam 1 bulan lebih cepat, sedangkan nila dipelihara dikolam kecil dengan ditutup jaring untuk mencegah predator, selama 1 bulan.

Bu Eny adalah Ketua Komunitas GaGeGo organik atau 3G O di Pati.
Berdomisili di Pati Jawa Tengah.

bacalah

Agrobisnis Dan Agrokultur Via Pesantren

udggalah

Harta Karun Dari Sistem Polikultur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>