«

»

Feb 23

LIKE dan keramah-tamahan ala Indonesia

LIKE dan keramah-tamahan ala Indonesia

Oleh Lia Herwanti

Saya mempunyai kebiasaan rutin,  setelah memposting sebuah artikel di website milik saya lantas saya re-posting lagi di akun facebook saya, seperti juga pada artikel saya ini LIKE dan keramah-tamahan ala Indonesia.

Namun setelah sekian tahun saya memiliki facebook saya baru menyadari hanya dalam beberapa detik saya posting tulisan di FB namun dalam 1-3 detik sudah ada 5-10 yang nge like dibawah tulisan yang saya post di FB.

Saya gundah gulana, bingung and bengong,  artikel-artikel  saya minimal ber durasi 450 kata,  seyogyanya butuh 3-5 menit membaca  kata-kata sepanjang itu. Saya penasaran dan segera mencari tahu apa penyebabnya dan saya jadikan sebuah kasus yang harus saya cari jawabannya.

Saya menemukan jawabannya dari sebuah naskah di google dan ternyata kasus saya diatas adalah merupakan salah satu keunikan orang-orang Indonesia dalam ber-interaksi di media sosial, dibawah ini catatan saya tentang keunikan atau kelebihan orang-orang Indonesia dibanding kebiasaan bangsa lain di sosmed baik di FB, twitter, instagram dan lain-lain. Atau katakanlah di Indonesia saja yang banyak terjadi.

  • Keramah-tamahan bangsa Indonesia terbukti dimedia sosial, entah biar dibilang ramah tamah atau latah ikut-ikutan saat ada up-date status yang masuk di page atau wall nya langsung di LIKE atau terkenal dengan istilah jempol. Belum dibaca sudah dilike. Gimana pembaca ! bingungkan ! anehkan !
  • Terungkap dibeberapa sesama sekeluarga melakukan chatting atau inbokan atau memberi comment padahal hanya dipisahkan ruangan kamar tidur atau dari teras rumah dan ruang tengah. Sang Ayah up-date status lantas si sulung kasih komen, sang istri ga mau ketinggalan komentar lengkap dengan up-load foto-foto, sikecil ikut-ikutan menulis jawab berbalas pantun dari ruang belajar.
  • Bermain game online dengan sesama anggota keluarga bahkan dikamar tidur.
  • Suka meng up-load foto keluarga dan anak-anaknya, penuh deh album foto yang disediakan oleh media sosial itu.
  • Berkeluh kesah di status dan tidak lama kemudian muncul nasihat-nasihat normatif dari teman-teman sesama online. Sebuah keluhan bisa menerima komentar panjang sekali dan ber halaman-halaman.
  • Bahkan sebuah komentar dan pasti anda pernah membaca klik status seperti : Kok sepi ya, pada kemana nih, dalam sekejab menyulut komentar bersahut-sahutan dan ketika tengah malam tiba hingar-bingar kembali meredup.
  • Tidak jarang sebagai sarana saling umpat, unjuk kebolehan atau adu argumentasi tanpa ujung.
  • Sebagian kecil medsos dijadikan memperkenalkan bisnis, masuk ke ribuan group, saya sering menerima pertemanan dan di inbox dan disapa agan dan mengajak bertukar info bisnis dan ajakan bertukar nomor Hp.
  • Tidak jarang seseorang menelepon temennya entar malam Fban ya padahal rumah mereka dalam satu blok di perumahan.

Hal yang pasti, kanal internet dengan segala bentuknya, peruntukannya selalu berpulang kembali kepada penggunanya. Sebagai ajang meningkatkan kualitas persahabatan, memperluas pergaulan bolehlah atau sebagai sarana informasi yang positif.

Tidak sedikit sebagai ajang tipu-tipu, pemerasan, penculikan, pedofilia serta penipuan. Dan juga banyak yang terjerat dalam kasus dan tuntutan hukum dari pihak yang merasa dicemarkan. Kemanfaatan  Internet atau media virtual idealnya tetap sebagai alat bantu manusia mempermudah aktifitasnya dan tetap menjaga nilai dan norma serta tidak keluar dari kesepakatan logika.

Salam bahagia dan terimakasih

Naskah terkait

Iseng Blogging Dapat Duit 

Blogger Indonesia adalah petarung

Ebook bisnis buku masa depan

punya website sendiri, untuk apa  ?

cover IB

LIKE dan keramah-tamahan ala Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>