«

»

Jul 06

Limbah Pasar Untuk Ruminansia

Limbah Pasar Untuk Ruminansia

(sayur pasar afkir)

Oleh : Hadi Winarto

Study lapangan ransum sapi dan kambing dengan menggunakan limbah sayur afkir di pasar dibeberapa kota yang saya lakukan :

  1. Peternakan sapi di Nganjuk, Cianjur, Bondowoso, Magetan dan Jember.
  2. Peternakan kambing di Tajur Halang Bogor, Jember dan Bondowoso.

Penggunaan sayur limbah pemberian pakan limbah sayur rata-rata 60-75%. Untuk sapi menghasilkan kesimpulan bahwa ADG masih dibawah standard. Untuk kambing di Tajur Halang lebih ekstrim yaitu rata-rata kematian hampir terjadi setiap minggu.

Kami lakukanlah langkah riset dan langkah perbaikan.

  1. Melakukan uji labor pada air minum ternak utk diketahui bakteri salmonella, vibrio, colliform dan e-colli. Mengatasi ini cukup mudah yaitu dengan melakukan treatment dengan alat ozonizer, merk : Fresh Ozone (Jepang) MSN (USA) atau Atm (Indonesia)
  2. Limbah sayur kami cuci dengan air mengalir, cara ini berguna utk membuang debu, pasir dan kotoran yang menempel.
  3. Limbah sayur direndam selama dengan mikroba selama 3 jam.
  4. Beberapa peternak dikota-kota diatas ada yang melakukan pengukusan, ada yang langsung di fermentasi an-aerob dan ada yang melakukan kombinasi kukus dan kombinasi.
  5. Progress report : Peternak yang melakukan percobaan dengan gunakan konsentrat 60% protein 12% dan hijauan limbah pasar 40% mengalami kenaikan bobot menjadi 120%

 

Peternak yg menggunakan konsentrat 60% dari biomassa pakan dengan total protein 15-16% dan limbah pasar 40% dengan metoda kukus + fermentasi + mikroba mengalami kenaikan 145%. Rekor terbaik terjadi di Magetan : Konsentrat protein 16% total pakan 60% Hijauan pasar 30% dan rumput fermentasi 10%. Pada konsentrat fermentasi : ampas bir 20%, ampas kecap 20%, bungkil sawit 30%, onggok 30%. Sayangnya pada waktu itu saya tidak melakukan uji klinis labor dan rencana uji lapangan dengan berbagai variabel tidak sempat dilakukan mengingat tour kami waktu itu cukup menyedot biaya. Kelak akan kami lakukan uji lapangan lagi dengan berbagai variabel misalnya : managemen kandang seperti temperatur ideal, managemen nutrisi dengan berbagai variannya : protein, TDN, lemak, serat, abu dan lain-lain.

Pertanyaannya : Bisakah pestisida itu dihilangkan jd 0% ???. Tentu saja tidak !!! dengan mikroba dan ozonizer hanya bisa diminimalisir. Ketergantungan petani Indonesia terhadap pestisida jumlahnya 95-99%, miris banget deh.

Setelah anda tahu betapa bahayanya pestisida dan dampak ditimbulkannya, beritahu orang lain agar dunia tahu : BAHWA ORGANIK ITU PENTING. MATA RANTAI MAKANAN ORGANIK AKAN MENINGKATKAN KWALITAS HIDUP MAKHLUK HIDUP.

Terima kasih

Bacaan lainnya

Aquaponik Antara Profit Dan Seni

Menggali Potensi Ayam Kampung Organik

Topik Ringan Tentang Hidroponik

Enzim dan Ozonizer Pada Lele

Cassava Fermentation To The Culinary World

Booster Fish

Limbah Pasar Untuk Ruminansia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>