«

»

Jan 31

Manakala Jemari Lembut Ibu

Manakala Jemari Lembut Ibu

Oleh : Happyanthie

Manakala detik pertama aku melihat dunia dari rahim Ibu, walau aku belum merasakan dan belum mengerti namun aku yakin jemari tangan Ibulah yang pertama kali membelai aku, pastilah dengan lemah lembut, penuh kasih, penuh cinta. Sentuhan perlahan jemari tangan Ibu menghangati tubuhku, rambutku, pipi, dada dan sekujur tubuhku.

Manakala aku menahan rasa sedih dan rasa sakit suara Ibu terdengar memberi nasihat dan pengertian dan betapa beliau dengan sangat sabar agar aku tidak bersedih.

Manakala perut aku lapar, segera Ibu tahu dan menyiapkan hidangan kesukaanku, dari tangan ibu langsung yang menyuapiku sambil menyenandungkan tembang agar aku lekas besar dan sehat.Manakala aku letih dan haus tangan ibu tidak merasa letih dan memberi minuman. Agar aku kembali segar bugar dan tidak lupa Ibu mengajari makna hidup didunia ini, untuk saling mengasihi, menghormati dan menyayangi.

Manakala aku menangis, jemari tangan ibu yang mengusap air mataku. Ibu tidak pernah hingga detik ini dan membiarkan aku menangis, Ibu siap menghibur, Ibu siap mendampingi, Ibu sepanjang hidupnya dan seumur hidupnya hanya hanya untuk aku.

Manakala aku sedang senang dan gembira, jemari tangan ibu mendekap dadanya pertanda Ibu juga senang dan gembira dan selalu mengucapkan rasa syukur atas karunia Nya. Ibu senantiasa memelukku erat dengan derai airmata bahagia.

Manakala aku membersihkan diri dan mandi, jemari lembut tangan Ibu yang menyeka agar aku selalu wangi dan bersih.

Manakala aku dirundung duka Ibu selalu siap sedia menyelesaikan masalahku. Belaian, dekapan agar aku tabah, agar aku tetap tenang menghadapi cobaan, Ibu selalu merangkai doa kepada Tuhan yang Maha Kuasa agar aku diberi kekuatan lahir dan bathin.

Manakala aku berangkat sekolah dan pulang dengan membawa nilai yang baik, manakala aku secara menakjubkan tahun demi tahun aku bisa menyelesaikan sekolah hingga aku menjadi sarjana, betapa darah ini, keringat ini, pori-pori ini, helai demi helai rambutku,  bertumbuh dan dewasa atas perjuangan tanpa lelah dari Ibu, tidak satu detikpun, tidak satu detikpun, Ibu tidak pernah lemah membentuk diriku

Manakala aku menikah, betapa bahagianya Ibu melihat kebahagiaan aku. Ibu yang mempersiapkan semua persiapan pernikahan aku, manakala aku menemukan jodohku dan aku seolah dibentuk oleh Ibu menjadi manusia sejati, berpasangan seperti amanah, tersirat dan tersurat dan tertera pada kalam Illahi.

Namun,

Manakala Ibu sudah renta dan tua dan Ibu tidak bisa mengingat siapa dirinya karena pikun, manakala Ibu sudah lemah tak berdaya, tiada tangan anaknya yang memapahnya, Ibu dengan tangan gemetar menyuapi dirinya sendiri agar Ibu bisa sekedar bertahan hidup. Jika waktu kecil Ibu tidak pernah lupa menyuapiku, memandikanku, menina-bobokkanku, manakala aku sakit dengan sabar Ibu menunggui aku. Menghiburku.

Namun,

Manakala Ibu sakit dimana pengabdianku, apa pembalasanku agar Ibu sembuh dari sakit. Agar Ibu kembali ceria dan lepas dari penderitaannya. Manakala Ibu sakit tidak seperti aku sakit waktu kecil, Ibu menunggui ku setiap detik bahkan tidak sejengkalpun Ibu meninggalkan aku.

Namun,

Manakala Ibu menghembuskan nafas terakhirnya, manakala Tuhan Yang Maha Esa memanggil Ibu keharibaa Nya, menuju peristirahatannya yang terakhir dan manakala jenazah Ibu disirami barangkali satu kali itulah aku menyirami Ibu. Tidak sebanding disaat waktu aku kecil sudah tak terhitung Ibu memandikannu, menyiramiku.

Sungguh,

Tiada yang lebih hebat dari semua kelembutan selain jemari indah tangan Ibu. Apakah ada sebuah keajaiban selain jemari tangan Ibu, apapun namanya, apapun karya cipta manusia tiada se ajaib jemari tangan Ibu. Tiada kehebatan apapun selain sentuhan kasih sayang Ibu. Seumur hidup aku, aku tak hendak membandingkan Ibu dengan siapapun. Sepanjang hayat Ibu dan setiap deru nafas Ibu hanya dipertaruhkan untuk aku.

Sungguh,

Ibu pasti mendapat tempat yang paling mulia disisi-Mu, Ibu hanya layak ditempat yang paling indah. Doa aku pastilah lebih sedikit dibanding doa ibu untukku, Ibu pastilah tenang di Syurga.

Amin ya robbal alamin, perkenankanlah ya Allah.
PP booster fish

 

Manakala Jemari Lembut Ibu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>