«

»

Mar 23

Mimpi Indah Peternak Lele

Mimpi Indah Peternak Lele

Oleh : Hadi Winarto, Jember 24 Mei 2019

Yunan (bukan nama sebenarnya) anak muda, 32 tahun, desa Panti Jember. Seperti umumnya peternak pemula. Yunan dengan bijak mengambil keputusan untuk memulai beternak lele dengan membuat kolam ukuran 3mx2mx0,8m sebanyak 3 buah dulu. Sedikit dulu, sambil belajar dulu.
Setelah mengunjungi beberapa kolam sahabat dan bertanya kepada yang dianggap ahli, browsing sana sini. Alhasil pada panen perdana diperoleh hasil : Panen 1 kg lele konsumsi ukuran 10 ekor/kg ternyata menghabiskan pakan 1kg. Masih untung tipis.
Karakter Yunan adalah seorang petarung, tidak ada kamus putus asa. Agar profit, pasti ada jalan, fikirnya. Dari hasil penggalian ternyata ada beberapa trik untuk mendapatkan laba lebih besar.
Yunan melihat perilaku peternak disekelilingnya yang berpuluh tahun bisa bersandar dilele.
Jika saya bisa menekan biaya pakan tentulah laba bisa lebih besar. Benang merah ada pada pakan. Hapal sudah apa itu energy termetabolisme, apa itu total digestible nutrient, kadar lysine, leusin dan lain-lain.
Merasa sudah mengerti lantas Yunan beli mesin pelet sederhana, 2 juta rupiah.

Singkat kisah, pada panen kedua dengan pakan buatan sendiri didapat bobot panen 1kg dan menghabiskan pakan 1,3kg. Dalam benak Yunan pasti ada yang salah, pasti formulaku keliru, pasti ada bahan baku yang salah atau nutrisi lain yang belum ditambahkan.. Singkat lagi, panen ketiga angka FCR tetap di 1,3.
Okey, panen ke-4 harus lebih baik lagi.

Ketemu deh formula dan dosis terbaik :

  • Tepung kulit rajungan 30kg
  • Azolla 40kg
  • 0nggok 30kg

Bahan penyangganya (buffers) : Enzim, atraktan, asam amino, minyak ikan, dektrose, lysin.

Info dari medsos perhitungan proteinnya :

  • Tepung kulit rajungan 30kgx50% = 15%
  • Azolla 50kgx23% = 11,5%
  • Dedak 20kgx11% = 2,2%. Total protein 28,7%

Kata sebuah artikel oleh proses enzimatis dan fermentasi kadar protein bisa bertengger diangka 33-36%.

Kata mas gugel menghitung HPP nya :

  • Tepung kulit rajungan 30kgxrp.6000 = 180.000.
  • Azolla 50kgxrp.800 = 000
  • Dedak 20kgx3500= 000
    Total rp.310.000 atau Rp.3.100 perkilogram

Dihitung biaya buffers, SDM, listrik, penyusutan, karung, enzim, atraktan, minyak ikan, asam amino dll rp.800/kg. Total HPP pembuatan pakan Rp. 3.900/kg, wuih. Gemerincing laba dikelopak mata.

Panen ditunggu, tidak tahu entah kenapa panen kok mundur 1 bulan dan menghabiskan pakan 1,6kg. Bencana apa lagi ini.

Ini kisah fakta bukan fiktif, fenomena ini memang terjadi bukan hanya di seluruh Indonesia saja tapi peternak pemula di Thailand, Malaysia, Pakistan dan belahan dunia lain biasa terjadi sejak puluhan tahun yang lalu.

Singkat koreksi nya gini :

Belum tentu bahan baku seperti tepung ikan sesuai dengan harapan. Tepung kulit rajungan dengan harga rp.6000/kg pasti bermutu rendah, kadar abu hingga 61%.

Azolla, jika anda membeli 50kg azolla basah rp.800/kg, total rp.40.000 dan ketika dikeringkan hanya didapat 4,5kg azolla kering dan sejatinya harga azolla rp.40.000 dibagi 4,5kg diperoleh harga rp.8.888/kg. Ini satu hal. Hal lainnya jika dihitung proteinnya tentu akan menghasilkan nilai protein berbeda. Dan hal lainnya seperti cara pengolahan yang salah atau daya cerna pakan yang rendah, pakan yang terserap jadi daging rendah karena sebagian besar hanya menjadi feses, feses jadi amoniak, amoniak meningkatkan bakteri pathogen, pathogen menurunkan kadar DO dan turbidity dan seterusnya nafsu makan menurun, berbagai penyakit, parasit, virus, jamur datang menghampiri. Jumlah panen dibawah ekspetasi, hiks.

Kadar air luput dari kalkulasi, bobot pakan sebenarnya hanya 54,5kg. Memang seharusnya panen jadi mundur beberapa hari karena Yunan belum mengerti bahwa kadar air faktor penting dalam menyusun nutrisi ransum.

Yunan, seperti ribuan peternak pemula, berbilang panen dari waktu ke waktu penelusurannya masih  tetap berkutat dengan pakan. Bagi yang bermodal cukup akan bertahan hingga beberapa periode. Yang modal cekak akan gulter (gulung terpal.) Mesin pelet berpindah tangan kepemulung rongsokan.

Lalu ??? Apa awal pelajarannya ?

Pakan, pakan dan pakan yang menjadi pencarian para petani lele dan pakan dijadikan pangkal bala kegagalan. Sedikit sekali yang berfikir bahwa airlah yang musti didahulukan pembelajarannya. Apakah mikroba dalam air kolam anda sudah hidup subur. Anda tak harus memiliki mikroskop untuk mengetahui seberapa banyak mikroba baik atau mikroba buruk tapi anda bisa mempelajari sumber-sumber mikroba positif yang mudah anda dapatkan disekeliling anda.

Ada ratusan contoh, saya tulis 3 kesaksian. Sebuah peternakan puyuh milik pak Rizal di kecamatan Tapen Kabupaten Bondowoso yang setiap harinya menghasilkan telor puyuh tertinggi perhari 15kg. Setelah dilakukan perlakuan treatment ozonisasi, pemberian enzim dan asam amino pada air minum burung puyuh dan hanya dalam waktu 5 hari panen diperoleh 15kg, hari ke 7 sudah mencapai 22 kg dari populasi 2500 ekor dari rata-rata bobot telor 9 gram per-telur menjadi 13 gram per-telur.

Pak Putu karmawan di Bali menghasilkan 80kg jamur setiap hari, yang sebelumnya hanya 32kg, Pak Putu memberikan enzim pada air untuk menyemprot baglog jamur.

Pak Fauzi di kecamatan Ambulu Jember hanya mengandalkan treatment  enzim dan ozon pada air minum ayam, memanen 3500kg daging ayam dengan populasi 1800 ekor ayam broiler, sebelumnya panen 3200kg.

Air minum kambing, sapi, babi, kelinci hendaknya dijadikan perhatian pertama dalam semua aktifitas awal budidaya peternakan, perikanan, pertanian, perkebunan bahkan air minum untuk manusia. Air adalah diatas segalanya. Pakan boleh buruk tapi air jangan.
Materi pelajaran yang kedua adalah Persiapan kolam. Entah itu pakai sistem apapun. Persiapan kolam adalah proses pematangan air. Pematangan air meliputi : Menumbuhkan mikroba lalu mikroba bertindak melakukan enrichment biota air sebagai pakan alami, sebagai antibiotik, sebagai probiotik dan sebagai zoo-plankton multiply.

Mensterilkan air dengan memberi terlebih dahulu antibiotik, pupuk kolam (pupuk air) agar kolam bebas dari pathogen. Agar pH sesuai dengan obyek ikan yang hendak dibudidayakan. Memenuhi pasokan oksigen, memenuhi syarat turbidity, batas toleransi amoniak, bacteri, disparitas suhu, memperhitungkan tebar padat, tinggi air, managemen kolam dan infrastruktur yang dibutuhkan (aerator, mesin nano, RDF, ozon, bak sortir, central drain, pompa resirkulasi, hidroton, carbon aktif, zeolit, pencahayaan dan banyak lagi).

Hal miris yang sering saya hadapi adalah jika seorang audiens bertanya tentang bagaimana mengolah pakan, saat saya hendak membuat urutan cara budidaya dan saya mulai dengan penjelasan tentang pentingnya air kolam, air minum kelinci, kalkun, domba atau jamur.  Sang audiens langsung menyela dan mengklaim bahwa airnya ditempatnya sudah bagus, jernih, bening, dari sumber mata air dari pegunungan bla … bla … bla… dan cenderung ngotot tapi dengan sabar dan senang hati saya menjelaskan betapa berharganya air untuk kehidupan. Tapi yang ngeyel dan faktor pakan tetap yang terpenting dengan alasan bahwa pakan itu menghabiskan 70% dari total biaya produksi.

Ya … biasanya saya hanya menunggu beberapa bulan yang bersangkutan sudah alih profesi diluar usaha agrobisnis. Ya sudahlah. Memang hidup itu menjadi indah karena perbedaan. Kesepakatan logika tidak harus sama.

Rekayasa Bioteknologi

Sebuah komunitas di Jember Jatim membuat statemen menarik, guyon tapi serius, begini :

Selama ini pelet atau pakan pabrik atau pakan alternatif selalu dijadikan pakan utama dan akibatnya biaya disektor pakan mencapai 70% sedangkan enzim, vitamin, jamu atau probiotik  hanya dijadikan camilan. Ini harus kita rubah. enzim, vitamin, jamu atau probiotik bisa dijadikan pakan utama dan pakan pelet dibalik menjadi camilan.

Mungkinkah ?  Salah satu caranya adalah dengan jalan meningkatkan mutu air. Merekayasa mutu air agar ideal dan maksimum melalui bantuan bioteknologi. Hasilnya sungguh menakjubkan. Mutu air yang baik mampu meningkatkan survival rate dan menekan feed convertion ratio.

Saya dan team boosterfish farm tidak mau ketinggalan. Enam buah kolam kami jadikan ajang trial and error, enam variabel berbeda untuk dicari treatment apa yang akan menghasilkan produksi tertinggi. Dalam waktu bersamaan, uji lapangan inipun kami lakukan pada air minum kambing dan ayam broiler. Insya Allah sesudah lebaran ini (Juni 2019) hasilnya kembali akan kami posting di boosterfish.com ini.  Wait and see.

Terimakasih

Analisa labor tentang air di beberapa farm

labor cianjur asli

labor cianjur

labor atm-k

ujilab2

Hi all ! This is kind of light topic. Catfish only. I’m not very techical. But I need some advice from an established website.  I’m setting up my own but I’m not sure what a best. Do you have any ideas, critics or suggestions? It could bring my website a little bit more interesting. Thanks.

New contents for you >

Membangun Pabrik Pakan Didalam Kolam

Fungsi Chlorella Pada Budidaya Ikan

Chlorella : Alga Hijau Yang Fenomenal

Asam fitat, Penjahat Pencuri nutrisi Pakan

Lele : Penyakit, Antibiotik Dan Pencegahannya

Mimpi Indah Peternak Lele

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>