«

»

Oct 08

OPTIMALISASI LAHAN GAMBUT

OPTIMALISASI LAHAN GAMBUT

Oleh Ir. Supriyanto Hidayatullah

SEKILAS TENTANG TANAH GAMBUT

Tanah gambut (organosol atau histosol) adalah tanah yang terbentuk dari akumulasi bahan organik seperti sisa-sisa jaringan tumbuhan yang berlangsung dalam jangka waktu lama. Tanah Gambut umumnya selalu jenuh air atau terendam sepanjang tahun kecuali didrainase. Lahan gambut merupakan ekosistem yang marjinal rapuh mudah rusak, namun mempunyai peranan penting dalam mengatur hidrologi. Tidak seluruh lahan rawa gambut di Indonesia sesuai dan layak dimanfaatkan untuk pertanian karena adanya berbagai kendala, seperti: ketebalan gambut, kesuburan rendah, kemasaman tinggi, lapisan pirit, dan substratum subsoil (di bawah gambut) dapat berupa pasir kuarsa.

Sifat Tanah Gambut

Sifat tanah gambut dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu sifat fisik dan kimia. Sifat-sifat fisik dan kimia gambut, tidak saja ditentukan oleh tingkat dekomposisi bahan organik tetapi juga oleh tipe vegetasi asal bahan organik.

Sifat Fisik

Sifat fisik gambut yang penting untuk diketahui antara lain tingkat kematangan, berat jenis, kapasitas menahan air, daya dukung (bearing capacity), penurunan tanah, daya hantar hidrolik, dan warna.

Tingkat Kematangan Gambut

Tingkat kematangan gambut bervariasi karena dibentuk dari bahan, kondisi lingkungan, dan waktu yang berbeda. Gambut yang telah matang akan cenderung lebih halus dan lebih subur. Berdasarkan tingkat kematangan/dekomposis bahan organik, gambut dibedakan menjadi tiga yakni: Fibrik, yaitu gambut dengan tingkat pelapukan awal (masih muda) dan lebih dari ¾ bagian volumenya berupa serat segar (kasar

  1. Hemik, yaitu gambut yang mempunyai tingkat pelapukan sedang (setengah matang), sebagian bahan telah mengalami pelapukan dan sebagian lagi berupa serat.
  2. Saprik, yaitu gambut yang tingkat pelapukannya sudah lanjut (matang)

Warna

Warna gambut menjadi salah satu indikator kematangan gambut. Semakin matang, gambut semakin berwarna gelap. Fibrik berwarna coklat, hemik berwarna coklat tua, dan saprik berwarna hitam (Darmawijaya, 1990). Dalam keadaan basah, warna gambut biasanya semakin gelap.

Bobot Jenis (Bulk Density/BD)

Gambut memiliki berat jenis yang jauh lebih rendah dari pada tanah aluvial. Makin matang gambut, semakin besar berat jenisnya. Wahyunto et al., 2003 membuat klasifiksi nilai berat jenis atau bobot isi (bulk density) tanah gambut di Sumatera sebagai berikut: gambut saprik nilai bobot isinya sekitar 0,28 gr/cc, hemik 0,17 gr/cc dan fibrik 0,10 gr/cc. Akibat berat jenisnya yang ringan, gambut kering mudah tererosi/terapung terbawa aliran air.

Kapasitas Menahan Air

Gambut memiliki porositas yang tinggi sehingga mempunyai daya menyerap air yang sangat besar. Apabila jenuh, kandungan air pada gambut saprik, hemik dan fibrik berturut-turut adalah <450%, 450 – 850%, dan >850% dari bobot keringnya atau 90% volumenya (Suhardjo dan Dreissen, 1975). Oleh sebab itu, gambut memiliki kemampuan sebagai penambat air (reservoir) yang dapat menahan banjir saat musim hujan dan melepaskan air saat musim kemarau sehingga intrusi air laut saat kemarau dapat dicegahnya.

Kering Tak Balik (Hydrophobia Irreversible)

Gambut mempunyai sifat kering tak balik, artinya, gambut yang sudah mengalami kekeringan yang ekstrim, akan sulit menyerap air kembali. Gambut yang telah mengalami kekeringan ekstrim ini memiliki bobot isi yang sangat ringan sehingga mudah hanyut terbawa air hujan, strukturnya lepas-lepas seperti lembaran serasah, mudah terbakar, dan sulit ditanami kembali.

Daya Hantar Hidrolik

Gambut memiliki daya hantar hidrolik (penyaluran air) secara horisontal (mendatar) yang cepat sehingga memacu percepatan pencucian unsur-unsur hara ke saluran drainase. Sebaliknya, gambut memiliki daya hidrolik vertikal (ke atas) yang sangat lambat. Akibatnya, lapisan atas gambut sering mengalami kekeringan, meskipun lapisan bawahnya basah. Hal ini juga menyulitkan pasokan air ke lapisan perakaran. Daya hidrolik air ke atas hanya sekitar 40 – 50 cm. Untuk mengatasi perilaku ini, perlu dilakukan upaya untuk menjaga ketinggian air tanah pada kedalaman tertentu.

Daya Tumpu

Gambut memiliki daya dukung atau daya tumpu yang rendah karena mempunyai ruang pori yang besar sehingga kerapatan tanahnya rendah dan bobotnya ringan. Ruang pori total untuk bahan fibrik/hemik adalah 86 – 91% (volume) dan untuk bahan hemik/saprik 88 – 92 %, atau rata-rata sekitar 90% volume (Suhardjo dan Dreissen, 1977). Sebagai akibatnya, pohon yang tumbuh di atasnya menjadi mudah rebah. Rendahnya daya tumpu akan menjadi masalah dalam pembuatan saluran irrigasi, jalan, pemukiman dan pencetakan sawah (kecuali gambut dengan kedalaman kurang dari 75 cm).

Penurunan Permukaan Tanah (Subsidence)

Setelah dilakukan drainase atau reklamasi, gambut berangsur akan kempes dan mengalami subsidence/amblas yaitu penurunan permukaan tanah, kondisi ini disebabkan oleh proses pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air. Lama dan kecepatan penurunan tersebut tergantung pada kedalaman gambut. Semakin tebal gambut, penurunan tersebut semakin cepat dan berlangsungnya semakin lama. Rata-rata kecepatan penurunan adalah 0,3 – 0,8 cm/bulan, dan terjadi selama 3 – 7 tahun setelah drainase dan pengolahan tanah.

Mudah Terbakar

Lahan gambut cenderung mudah terbakar karena kandungan bahan organik yang tinggi dan memiliki sifat kering tak balik, porositas tinggi, dan daya hantar hidrolik vertikal yang rendah. Kebakaran di tanah gambut sangat sulit untuk dipadamkan karena dapat menembus di bawah permukaan tanah. Bara api yang dikira sudah padam ternyata masih tersimpan di dalam tanah dan menjalar ke tempat-tempat sekitarnya tanpa disadari.

Sifat Kimia

Sifat kimia gambut yang penting untuk diketahui adalah tingkat kesuburan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesuburan tersebut. Friesher dalam Driessen dan Soepraptohardjo (1974) membagi gambut dalam tiga tingkatan kesuburan yaitu Eutropik (subur), mesotropik (sedang), dan oligotropik (tidak subur). Secara umum gambut topogen yang dangkal dan dipengaruhi air tanah dan sungai umumnya tergolong gambut mesotropik sampai eutropik sehingga mempunyai potensi kesuburan alami yang lebih baik dari pada gambut ombrogen (kesuburan hanya terpengaruh oleh air hujan) yang sebagian besar oligotropik.

Tanah gambut umumnya memiliki kesuburan yang rendah, ditandai dengan pH rendah (masam), ketersediaan sejumlah unsur hara makro (N, K, Ca, Mg, P) dan mikro (Cu, Zn, Mn, dan Bo) yang rendah, mengandung asam-asam organik yang beracun, serta memiliki Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang tinggi tetapi Kejenuhan Basa (KB) rendah. KTK yang tinggi dan KB yang rendah menyebabkan pH rendah dan sejumlah pupuk yang diberikan ke dalam tanah relatif sulit diambil oleh tanaman. Pada umumnya lahan gambut tropis memiliki pH antara 3 – 4,5. Gambut dangkal mempunyai pH lebih tinggi (pH 4,0 – 5,1) dari pada gambut dalam (pH 3,1 – 3,9). Kandungan Al pada tanah gambut umumnya rendah sampai sedang, berkurang dengan menurunnya pH tanah. Kandungan N total termasuk tinggi, namun umumnya tidak tersedia bagi tanaman, oleh karena rasio C/N yang tinggi.

Faktor yang Mempengaruhi Kesuburan

Tingkat kesuburan tanah gambut dipengaruhi oleh ketebalan gambut, bahan asal, kualitas air, kematangan gambut dan kondisi tanah di bawah gambut. Secara umum, gambut yang berasal dari tumbuhan berbatang lunak lebih subur dari pada gambut yang berasal dari tumbuhan berkayu. Gambut yang lebih matang lebih subur dari pada gambut yang belum matang. Gambut yang mendapat luapan air sungai atau air payau lebih subur dari pada gambut yang hanya memperoleh luapan atau curahan air hujan. Gambut yang terbentuk di atas lapisan liat/lumpur lebih subur dari pada yang terdapat di atas lapisan pasir. Gambut dangkal lebih subur dari pada gambut dalam.

Di bawah lapisan gambut di lahan pasang surut, sering terdapat lapisan pirit. Semakin dangkal letak lapisan pirit, maka gambutnya semakin tidak subur karena ancaman pirit teroksidasi semakin besar. Jika oksidasi terjadi, akar tanaman akan terganggu, unsur hara sulit diserap oleh tanaman, unsur besi dan aluminium akan larut hingga meracuni tanaman. Kondisi semacam ini akan berlangsung sangat lama, bertahun-tahun, sampai racun tersebut habis terbawa/tercuci oleh aliran air. Untuk mengatasi masalah ini, hal pertama yang harus diperhatikan adalah tidak menggunakan tanah yang kedalaman piritnya terletak kurang dari 50 cm, kecuali dijamin dapat diairi/tersedianya air sepanjang tahun. Kedua, lapisan pirit harus selalu dijaga agar tidak kekeringan dengan cara mempertahankan kelembaban tanah sampai kedalaman lapisan pirit. Adanya lapisan pirit pada lahan dapat diketahui dari tanda-tanda sebagai berikut (Widjaja-Adhi, 1995):

  1. Lahan dipenuhi oleh tumbuhan purun tikus;
  2. Di tanggul saluran terdapat bongkah-bongkah tanah berwarna kuning jerami (jarosit). Pada bagian yang terkena alir terdapat garis-garis berwarna kuning jerami;
  3. Di saluran drainase, terdapat air yang mengandung karat besi berwarna kuning kemerahan;
  4. Apabila tanah yang mengandung pirit ditetesi dengan larutan hidrogen peroksida (H2O2) 30%, maka ia akan mengeluarkan busa/berbuih.

 

Apabila tanah marin yang mengandung pirit direklamasi (misalnya dengan dibukanya saluran-saluran drainase sehingga air tanah menjadi turun dan lingkungan pirit menjadi terbuka dalam suasana aerobik) maka akan terjadi oksidasi pirit, yang menghasilkan asam sulfat.

Reaksinya digambarkan sebagai berikut:

Hasil reaksi adalah terbentuknya asam sulfat, dengan terbebasnya ion H+, yang mengakibatkan pH sangat rendah (pH 1,9 sampai <3,5). Terlalu banyaknya ion H+ dalam larutan tanah akan merusak struktur kisi (lattice) mineral liat, dan terbebasnya ion-ion Al3+ yang bersifat toksis terhadap tanaman. Pertumbuhan tanaman menjadi sangat terganggu karena adanyakombinasi pH sangat rendah dengan ion Al3+ bersifat toksis dan tidak tersedianya fosfat.

TEKNOLOGI BUDIDAYA LAHAN GAMBUT

Bertani di lahan gambut memang harus dilakukan secara hati-hati karena menghadapi banyak kendala antara lain kematangan dan ketebalan gambut yang bervariasi, penurunan permukaan gambut, rendahnya daya tumpu, rendahnya kesuburan tanah, adanya lapisan pirit dan pasir, pH tanah yang sangat masam, kondisi lahan gambut yang jenuh air (tergenang) pada musim hujan dan kekeringan saat kemarau, serta rawan kebakaran. Kunci keberhasilan pertanian di lahan gambut adalah bertani secara bijak dengan memperhatikan faktor-faktor pembatas yang dimikinya.

Paket Teknologi tepat guna untuk budidaya pada lahan gambut antara lain :

  1. Memanfaatkan dan menata lahan sesuai dengan tipologinya dengan tidak merubah lingkungan secara drastis;
  2. Menerapkan sistem tata air yang dapat menjamin kelembaban tanah/menghindari kekeringan di musim kemarau dan mencegah banjir di musim hujan. Drainase harus dilakukan secara ekstra hati-hati, yaitu dengan tetap mempertahankan tinggi muka air tanah gambut sesuai kebutuhan tanaman. Secara lebih rinci, pengelolaan air di lahan gambut dimaksudkan untuk:
    • Mencegah banjir di musim hujan dan menghindari kekeringan di musim kemarau;
    • Mencuci garam, asam-asam organik, dan senyawa beracun lainnya di dalam tanah;
    • Mensuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman;
    • Mencegah kondisi over-drainase akan sangat membahayakan, karena selain gambut akan menjadi kering dan rentan terhadap api, juga terjadi subsidence/amblasan secara cepat pada tanah gambut yang dapat menumbangkan tanaman di atasnya sebagai akibat dari mencuatnya perakaran ke permukaan tanah gambut;
    • Mencegah pengeringan dan kebakaran gambut serta oksidasi pirit;
    • Memberikan suasana kelembaban yang ideal bagi pertumbuhan tanaman dengan cara mengatur tinggi muka air tanah. Untuk tanaman semusim, kedalaman muka air tanah yang ideal adalah kurang dari 100 cm. Sedangkan untuk tanaman tahunan disarankan untuk mempertahankan muka air tanah pada kedalaman 150 cm. Keberadaan atau tinggi air di saluran, juga merupakan indikasi dari tinggi muka air tanah, dapat diatur melalui pintu air yang dapat menerima atau mengeluarkan air pasang dari/ke sungai di dekatnya. Pengaturan tinggi air di dalam saluran disesuaikan dengan jenis tanaman yang ditanam.
  3. Tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar (slash and burn);
  4. Bertani secara terpadu dengan mengkombinasikan tanaman semusim dan tanaman tahunan, ternak, dan ikan. Memilih jenis dan varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan dan permintaan pasar. Salah satunya adalah tanaman ubikayu yang tahan terhadap keasaman tinggi, dan mikroorganisme (jasad renik) yang terdapat pada perakarannya akan mempercepat pematangan gambut;
  5. Menggunakan bahan-bahan yang dapat meningkatkan kesuburan melalui perbaikan kondisi fisik dan kimia tanah (amelioran) seperti kompos dan pupuk kandang untuk memperbaiki kualitas lahan. Mikroorganisme yang terdapat dalam kompos, pupuk kandang, dan pupuk organik cair juga dapat mempercepat pematangan gambut;
  6. Masalah kemasaman tanah (pH rendah) pada lahan gambut dapat diatasi dengan penggunaan pupuk fosfat alam (rock phosphate), atau pemberian senyawa kapur misalnya kapur pertanian (kaptan) [Ca(CO3)2], atau dolomit [CaMg(CO3)2] untuk menetralisir ion H+ dan Al3+. Perhitungan teoritis yang dilakukan Driessen dan Soepraptohardjo (1974), menunjukkan bahwa untuk menaikan pH dari 3,5 menjadi 5,5 dari tanah lapisan atas (topsoil) yang mengandung 40 persen liat, 1 persen humus dan BD 1,35 gram/cc setebal 20 cm, diperlukan kaptan sebanyak 12 ton/hektar, meskipun penggunaan 7 ton lebih realistis.
  7. Menggunakan pupuk mikro bagi budidaya tanaman semusim atau penggunaan foliar fertilizer (pupuk daun)bahwa dengan cara ini unsur hara dapat langsung diserap oleh tanaman melalui mulut daun (stomata);
  8. Pengolahan tanah disesuaikan dengan kondisi lahannya, yaitu:
  • Tanah aluvial diolah sedalam kurang lebih 20 cm secara mekanis dengan menggunakan traktor atau secara manual dengan menggunakan cangkul. Setelah diolah, jika terdapat bongkahan-bongkahan tanah perlu dihancurkan dahulu kemudian diratakan;
  • Tanah gambut diolah dalam kondisi lembab/berair dengan mencacahnya menggunakan cangkul sedalam kurang lebih 10 cm tanpa pembalikan tanah. Jika gambutnya belum matang, setelah diolah lalu dipadatkan dengan alat pemadat gambut;
  • Tanah bergambut diolah dengan mencampur lapisan gambut dengan tanah aluvial di bawahnya;
  • Pada tanah yang mengandung pirit pengolahan tanah tidak boleh terlalu dalam, jangan sampai lapisan pirit terbongkar.
  1. Melakukan penanaman tanaman tahunan di lahan gambut tebal didahului dengan pemadatan dan penanaman tanaman semusim untuk meningkatkan daya dukung tanah.

 

 

PENERAPAN TEKNOLOGI SPESIFIK LOKASI UNTUK LAHAN GAMBUT

Sebagaimana telah diuraikan bahwa masalah utama budidaya tanaman pada lahan gambut adalah masalah kelebihan air dan tingkat kesuburan tanah yang relatif rendah. Penataan areal dan pembuatan sistem jaringan irigasi dan drainase mempunyai peranan yang sangat penting. Saluran drainase harus mampu mengeluarkan air sampai pada batas yang diinginkan terutama pada saat musim penghujan. Air saluran drainase tidak bisa dimanfaatkan untuk pengairan tanaman karena bersifat asam (hasil oksidasi senyawa pirit yang menghasilkan asam sulfat) dan banyak mengandung senyawa yang beracun bagi tanaman (ion Al3+ dan besi Ferro (Fe2+). Saluran irigasi yang breasal dari sungai diperlukan sebagai sumber pengairan bagi tanaman. Tata letak saluran drainase dan saluran irigasi harus diatur agar tidak mengganggu kegiatan budidaya atau proses produksi lainnya.

Penentuan Jarak Tanam dan Pola Tanam

Dalam penataan areal juga mempertimbangkan jarak tanam dan pola tanamnya (monokultur atau tumpangsari). Penentuan jarak tanam dan pola tanam sangat penting, hal ini berkaitan dengan tingkat kesuburan tanah, optimalisasi pemanfaatan lahan, mengurangi resiko kegagalan panen, diversifikasi produk, biaya dan produktifitas tanaman. Pada lahan yang belum pernah dibuka, apalagi pada lahan gambut perlu dicoba beberapa variasi jarak tanam, pola tanam (monokultur dan tumpangsari) serta menggunakan beberapa klon sebagai perbandingan. Sebagai contoh jarak tanam yang banyak digunakan oleh petani di Lampung adalah 70 cm x 80 cm, dengan produktifitas 10 – 22 ton/ha. Sedangkan hasil kajian BPTP Lampung menunjukkan bahwa penggunaan sistem tanam double row dengan variates UJ-5 mampu menghasilkan ubikayu 50 – 60 ton/ha.

Sistem atau cara tanam double row adalah membuat baris ganda (double row) yakni jarak antar barisan 160 cm dan 80 cm, sedangkan jarak di dalam barisan sama yakni 80 cm. Sehingga jarak tanam ubikayu baris pertama (160 cm x 80 cm) dan baris kedua (80 cm x 80 cm). Penjarangan barisan ini ditujukan agar tanaman lebih banyak mendapatkan sinar matahari untuk proses fotosintesa, sehingga pembentukan zat pati di umbi lebih banyak dan ukuran umbi besarbesar. Selain itu, diantara barisan berukuran       160 cm dapat dimanfaatkan untuk tumpangsari dengan tanaman padi atau palawija (jagung dan kacang-kacangan) sebagai tambahan pendapatan jangka pendek dan untuk optimaliasasi penggunaaan lahan. Keuntungan lain dari sistem tanam ubikayu double row adalah jumlah bibit yang digunakan lebih sedikit yakni 10.250 tanaman dibandingkan dengan sistem tanam petani biasa dengan jumlah bibit 17.750 tanaman.

Dengan luas efektif 18,75 hektar, maka jumlah bibit yang dibutuhkan berdasarkan pola tanamnya adalah sebagai berikut:

Pola tanam yang disarankan adalah Pola-6 (0,8 m x 0,8 m x 1,6 m), baik untuk monokultur maupun pola tumpangsari. Dengan Pola-6 ini populasinya “cukup” (tidak terlalu sedikit atau terlalu banyak) untuk lahan gambut yang baru dibuka, selain itu pemeliharaan tanaman juga lebih mudah.

Pengolahan Lahan dan Penggunaan Amelioran

Setelah bedengan terbentuk sebagaimana yang telah ditentukan pada saat penataan areal, maka pengolahan lahan difokuskan pada pengendalian gulma (pakis dan rumput). Gulma dibersihkan secara mekanik dengan menggunakan mesin rumput dan sampahnya dikumpulkan disatu lokasi untuk dibuat menjadi kompos yang dapat dijadikan sebagai amelioran. Pengolahan tanah dilakukan secara hati-hati dalam konsisi lembab dan dilakukan seperlunya saja sepanjang baris tanaman (minimum tillage/strip tillage). Pada saat pengolahan lahan ditambahkan amelioran berupa pupuk kandang atau kompos sebanyak 5 ton/ha dan dolomit atau kaptan sebanyak 1,5 ton/ha. Selain itu juga diperlakukan secara khusus dengan menyemprotan mikro organisme yang berperan sebagai dekomposer dan pupuk hayati.

Paket Teknologi Lainnya

Teknologi spesifik budidaya pada lahan gambut difokuskan pada pengendalian kelebihan air dan upaya untuk mengurangi senyawa-senyawa beracun yaitu dengan pembuatan saluran drainase dan irigasi, serta meningkatkan pH tanah dan meningkatkan kesuburan tanah dengan penambahan amelioran yang cukup pada saat pengolahan tanah secara terkendali. Sedangkan tenologi budidaya selanjutnya tidak jauh berbeda dengan budidaya singkong pada umumnya terutama pemilihan klon/varietas yang tahan terhadap pH tanah yang rendah dan keracunan Al3+, Fe2+, apabila perlu menggunakan bibit singkong sambung dengan batang atas dari singkong karet dan batang bawah berasal dari klon yang tahan terhadap kondisi lahan gambut tersebut.

Treatment sederhana dengan perendaman pangkal stek sebelum ditanam dalam larutan zat pengatur tumbuh akan sangat membantu dalam pembentukan perakaran dan pembentukan umbi. Kecamatan Rasau Jaya terletak di dekat garis katulistiwa, cahaya matahari melimpah sepanjang tahun dan intensitas curah hujan yang tinggi (rata-rata 3.051 mm/th). Hal ini sangat mendukung proses fotosintesa dan proses produksi tanaman, asalkan didukung oleh faktor produksi lainnya yaitu:

  • Pemupukan yang cukup dan berimbang (sebanding dengan unsur hara yang dikeluarkan dari dalam tanah berasama hasil panen). Umur panen tanaman singkong cukup lama 8 – 12 bulan, berdasarkan hasil penelitian untuk panen sebesar 20 ton/ha unsur hara yang diserap dan terbawa panen antara lain : Nitrogen (N) 100 kg, Phosphat (P2O5) 30 kg, Kalium (K2O) 120 kg, Magnesium (MgO) 40 kg. Pada lahan gambut terjadi permasalahan penyerapan unsur hara makro dan mikro karena terikat kuat dalam larutan tanah karena pH nya terlalu rendah. Berkaitan dengan hal tersebut, pemberian unsur hara melalui daun (foliar fertilizer) merupakan alternatif untuk mencukupi kebutuhan usur hara tanaman.

Rekomendasi dosis pupuk untuk tanaman singkong adalah sebagai berikut:

Pemupukan akan lebih efektif dan efisien apabila tersedia pupuk majemuk yang kelarutannya terkendali (slow/control release). Penggunaan pupuk tunggal (Urea, SP36 dan KCl) dapat digantikan dengan pupuk NPK 15:15:15 sebanyak 600 – 800 kg/ha.

  • Pengendalian gulma, tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya persaingan dalam pengambilan unsur hara dan air oleh gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman singkong (menurunkan produktifitas 7,5%). Tindakan pengendalian gulma dilakukan berdasarkan kondisi pertumbuhan gulma di lahan tanaman singkong, dilakukan pada umur 4 – 5 minggu dan 11 – 12 minggu. Pada umumnya lahan yang baru pertama kali digunakan atau pada lahan bekas alang-alang masih meninggalkan rhizom yang akan tumbuh lagi setelah pengolahan tanah. Pengendalian gulma ini dapat diminimalkan dengan penerapan pola tumpang sari misalnya dengan tanaman sela kacang tanah. Tanaman tumpangsari tersebut mampu menekan pertumbuhan gulma.
  • Pengendaian Hama/Penyakit, ada beberapa penyakti yang utama pada tanaman singkong yaitu penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas capestris pv. Manihotis dan penyakit hawar daun yang disebabkan oleh bakteri Cassava Bacterial Blight (CBB). Sedangkan hama yang utama tanaman singkong adalah tungau merah (Tetranychus urticae). Hama ini menyerang hanya pada musim kemarau. Cara yang efektif dan efisien untuk mengatasi penyakit dan hama tanaman singkong tersebut adalah dengan menggunakan varietas yang tahan seperti Adira-4, Malang-6, UJ-3, dan UJ-5. Selain itu juga diimbangi dengan menjaga kebersihan (sanitasi) kebun singkong.

Panen

Umur panen tanaman ubi kayu bervariasi mulai dari 7 – 11 bulan tergantung varietas yang ditanam. Berdasarkan umur panennya tanaman ubi kayu dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu: genjah (panen pada umur 7 – 9 bulan), sedang (panen pada umur 8 – 11 bulan), dan dalam (panen pada umur 10 – 12 bulan).

3 comments

  1. business Cards

    Excellent read, I just passed this onto a colleague who was doing some research on that. And he actually bought me lunch as I found it for him smile Thus let me rephrase that: Thanks for lunch!

  2. Cheap Vacations

    Nice blog here! Also your web site loads up very fast! What host are you using? Can I get your affiliate link to your host? I wish my website loaded up as fast as yours lol

  3. Money

    I loved as much as you will receive carried out right here. The sketch is attractive, your authored subject matter stylish. nonetheless, you command get got an impatience over that you wish be delivering the following. unwell unquestionably come further formerly again since exactly the same nearly a lot often inside case you shield this hike.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>