«

»

Nov 20

Pesta Seks Bebas

Pesta Seks Bebas

Peran feremon pada segmen budidaya ikan.
(Artikel pesta seks bebas ini dibuat berdasarkan permintaan dan pertanyaan Bapak Agus Purwanto, budidayawan ikan nila di Wonogiri, JawaTengah)

Oleh : Hadi Winarto

Alinea umum
Fisiologi ikan (ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang ikan) memegang peran penting untuk mendalami ilmu pengetahuan teknologi : budidaya, penangkapan, ransum, penangkapan, pengolahan ikan dan lain-lain.

Secara umum perangkat fisilogis dan alat biologis seks ikan berbeda dengan hewan lainnya. Panca indra ikan berupa fisik (metabolisme) yang memiliki daya rangsang khusus (respon) termasuk alat sensor terhadap kebutuhan seks, perilaku (habitat), kebutuhan pakan (nutrisi) dan interaksi sosial dan adaptasi lingkungan. Ilmu fisiologi dibutuhkan agar informasi untuk peningkatan/pemberdayaan dibidang perikanan dikalangan peternak semakin baik.

Alinea khusus
Dalam budidaya ikan Nila segmen pembenihan memberikan keuntungan-keuntungan :
– Meskipun daya produksi ikan tidak seperti lele (hanya 1000-2000 ekor sekali bertelur) namun ikan nila dapat dipijahkan secara massal, terus menerus berproduksi dan nila tidak saling memangsa (kanibal) karena ikan Nila termasuk dalam kelompok ikan herbivora. Mengapa Nila juga disebut salah satu spesies penganut pesta seks bebas.
– Ikan nila juga memiliki olfactory (indra pembau) dan gustatory (indra pengecap)
Seperti hewan lainnya, Nila juga memiliki Allomon dan feromon.

Apa itu Allomon dan feromon ?
Beda dengan hormon, hormon adalah sinyal internal bagi individu, feromon dan allomon bekerja secara kimia yang di sekresi keluar tubuh oleh kelenjar eksokrin hingga bereaksi di luar tubuh (antar individu). Feromon sebagai jembatan komunikasi individu dalam satu spesies. Fungsi Allomon dan feromon multi fungsi antara lain daya tarik seks, sinyal keamanan, memindai teritorial dan jejak.
Hewan invertebrata dan vertebrata dan juga ikan juga memiliki perangkat komunikasi (sensoric part). Indra penciuman adalah panca indra yang digunakan dalam interaksi ikan baik terhadap ekologi maupun detektor makanan. Indra penciuman berperan terhadap kelangsungan hidup ikan (survival rate) Fungsi penciuman ini melibatkan proses senyawa kimiawi yang disebut feromon.

Olfactory.

Rangsangan penciuman pada ikan seperti hewan lainnya dinamai olfactory. Olfactory yang terdapat pada ikan seperti dengan organ nasal yang dimiliki manusia, namun cuping hidung pada ikan jarang terbuka.
Aroma makanan dalam air akan merangsang reseptor pada organ penciuman ikan sehingga ikan mendeteksi adanya reseptor pembau dalam bentuk rangsangan kimia. Stimulus tersebut melalui hidung dirubah dalam bentuk signal elektrik yang kemudian melewati olfactory. Sinyal yang dihasilkan kemudian diterjemahkan pada otak yang disebut telencephalon.
Indra penciuman ikan sangat sensitif terhadap bahan organik maupun anorganik yang dikenal melalui indera penciuman. Semua ikan memiliki alat sensor yang dapat mengenai bau mangsanya namun tiap jenis ikan berbeda kemampuan daya ciumnya, ikan sidat mampu membaui mangsanya dari jarak 1000 meter.

Fungsi Feromon

Feromon, berasal dari bahasa Yunani, phero dan mone artinya ‘pembawa sensasi’. Feromon zat senyawa kimia yang bekerja untuk merangsang dan sebagai sex appeal sebagai bekal dalam melanjutkan kisah penganut seks bebas diantara mereka atau bekal untuk proses reproduksi atau berkembang biak. Zat seks bebas ini disebut kelenjar eksokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali dan berkomunikasi dengan sesamanya dan individu lain.
Pada betina Nila yang siap pijah akan mengeluarkan feromon atau bau-bauan untuk menarik kehadiran sang arjuna. Proses ini juga dimanfaatkan ikan untuk mempertahankan daerah

Teritori

Feromon berhembus dari tubuh, senyawa ini aromanya tercium dan selanjutnya sinyal ini akan diteruskan ke hipotalamus (yang mengatur emosi) agar memberikan respon oleh kelenjar hormon testoteron pada jantan atau hormon esterogen pada betina

Mekanisme kerja

Dasar kerja Feromon semua organisme termasuk selain insecta, menghasilkan feromon melalui kelenjar eksokrin. (eksokrin adalah kelenjar yang mempunyai saluran untuk mengeluarkan produknya). Setelah produksi kelenjar eksokrin mencetak feromon akan diteruskan ke abdomen. Dari abdomen, feromon akan ditangkap sebagai “love sign” pada spesies sejenisnya.
Tiap hewan memiliki feromon berbeda dan mampu menarik spesies lawan jenis pada jarak berbeda,. Feromon seperti ini tidak diproduksi terus menerus,tetapi saat usia cukup dewasa untuk kawin, pada ikan pada saat fase birahi atau matang gonad.

Sebagai Detektor

Feromon digunakan juga ketika terjadi marabahaya atau situasi gawat darurat. Dalam hal ini biasanya ikan-ikan akan mengeluarkan lendir pamugkas yang dikeluarkan melalui permukaan kulit.
Pejantan dominan ikan Nila juga menyimpan urin dan kemudian melepaskannya untuk secara aktif menunjukkan status hegemoni teritorial nya.
Selain ikan Nila juga mengeluarkan detektor sinyal sebagai peringatan bahwa akan datang musuhnya atau predator.

Pengenalan wilayah

Feromon dalam indra penciuman untuk pengenalan wilayah seperti ikan salmon sangat baik melakukan pemijahan di sungai kemudian bermigrasi kelaut dan kembali lagi kesungai. Feromon merupakan motor penggerak bagi larva ikan salmon selama melakukan migrasi kelaut. Dalam orientasi migrasi menuju laut, akan merekam peta perjalanan, bau air, warna lingkungan melalui bau khas yang terdapat pada indra penciuman.

Sebagai alat bantu seks

Pada beberapa spesies, ikan jantan tertarik untuk berintegrasi dengan betina melalui bau. Steroid seks adalah salah satu yang membangkitkan gairah seks. Pada ikan mas, jantan dewasa bisa memilih betina ikan mas yang matang gonad. Daya tarik dari betina matang gonad umumnya bersumber dari feromon seks yang terlarut dalam air. Ikan guppy jantan atau Poecilia reticulate tertarik pada air yang sebelumnya ditempati betina, terutama oleh betina yang sedang bunting dan happy mood. Feromon seks juga menyebabkan daya semprot sperma (ejakulasi kali ya) dari jantan dan telur dari betina ikan karper atau Cyprinus carpio sehingga terjadi pembuahan. Betina siap pijah akan mengeluarkan feromon bau-bauan tertentu untuk mempercepat proses pesta seks bebas mereka.
Para ahli merujuk dan menunjukkan bahwa hormon (proses metabolism ikan) bertindak sebagai reproduksi feromon. Perilaku mendekati lawan jenis tetapi juga menghindari perkelahian pada ikan jantan yang menunjukkan perilaku agresif pada ikan betina. Hormon steroid yang bertugas mempengaruhi indra penciuman penciuman,
menjelaskan bahwa banyak dari beberapa spesies ikan menggunakan urin sebagai isyarat kimia dalam perilaku seksnya. Ikan jatan tersebut akan mengeluarkan lebih banyak urin ketika mengadakan pedekate terhadap betina.

Ancaman amoniak menurunkan fungsi feromon.
Feromon riskan terhadap gangguan keseimbangan ekologi ikan. Efek negatif gangguan kesimbangan lingkungan dapat berupa proses pencemaran yang diakibatkan amoniak, logam, pestisida, fungisida, insektisida dan zat kimia lainnya dan akan menurunkan kualitas fungsi indra penciuman. Perubahan pada penciuman ikan dapat disebabkan keseimbangan lingkungan (balancing of life) ikan akan rusak.

Dengan kata lain apa Feromon bisa disamai dengan obat perangsang yang diproses secara otomatis didalam tubuh hewan ya, agar kehendak pembudidaya sebagai mediator pesta seks bebas pada ikan agar produksi ikan cepat meningkat, pendapatan peternak berlipat dan dapur tetap berasap.
Apakah Feromon seperti aprodisiak ya atau viagra gitu ! mohon koreksi.

Sakitnya Tuh Disini

Jerit tangis terkeras didunia perikanan datang dari lengkingan para peternak ikan lele dibanding dengan peternak ikan air tawar lainnya (aquaculture). Keluhan para budidayawan dan budidayawati bertumpu pada satu variabel : ‘Harga pakan mahal, harga jual murah.’
Pertanyaannya kenapa memilih usaha ini, kenapa tidak memilih perikanan spesies selain lele seperti patin, nila, bawal, mas, gurame ?.

Tidak adanya pilihan selain lele tentu ada alasannya :
1. Dilokasi tertentu hanya lele yang sesuai dengan habitat lele seperti : Ph air, kekeruhan, kadar oksigen dan lain-lain.
2. Beternak lele lebih disukai karena hemat lahan (tebar padat)
3. Dilokasi atau kota tertentu yang kebutuhan ikan lele sangat dibutuhkan pasar.
4. Peternak tertentu hanya memiliki pengetahuan tentang lele.
5. Peternak tertentu memiliki hobby/kesenangan hanya beternak lele.
6. Lele dianggap komoditas yang mudah terjual.
7. Lele dianggap lebih tahan dan kuat dibanding ikan air-tawar lainnya.
8. Masa panen lele lebih cepat dibanding ikan air tawar lainnya.
9. Pakan alternatif lele dianggap mudah dicari sebagai pengganti pakan pabrik yang mahal.

Pakan alternatif lele buatan sendiri menjadi tumpuan harapan para penggiat budidaya ikan berkumis ini. Namun berbagai dilema menghadang para peternak dalam menciptakan pakan alternatif lele yang standard dan bermutu. Berbagai referensi, pelatihan, penyuluhan, buku, karya tulis dan inovasi. Konten tentang pakan alternatif lele bertebaran di internet. Pakan alternatif lele menjadi bacaan yang paling diburu oleh pemain di segmen ini. Pakan ikan lele menjadi konten yang paling di klik didunia maya.

Wacana ini dibuat dengan tujuan melemparkan ke forum pembaca guna menggali solusi yang tepat mengatasi persoalan lele yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun :
1. Mungkinkah pemerintah bersedia memberi subsidi, terlibat lebih peduli mendengar jerit tangis peternak lele. Bantuan yang selama ini sudah ada dari pemerintah melalui dinas perikanan belum menyentuh ke akar masalah yang sesungguhnya seperti :
A. Bantuan pelatihan dan penyuluhan
B. Bantuan benih dan indukan
C. Bantuan terpal dan peralatan budidaya lele
D. Bantuan mesin-mesin pelet sederhana (pelleting)

2. Mungkinkah pemerintah membentuk satu badan seperti Bulog yang mengelola beras dan gula sehingga harga pakan pelet bisa dikendalikan.
3. Mungkinkah pemerintah bersedia membangun pabrik pelet, selama ini adanya pasokan lele sebagian besar datang dari peternak lele hanya panen ke-1 dan ke-2 sesudah itu gulung tikar karena merasa rugi dan putus asa, dalam waktu yang bersamaan muncul peternak baru / pemula. Peternak pemula ini juga akan gulung terpal pada panen perdana dan muncul lagi peternak berikutnya. Peternak baru menerima angin surga lagi akan indahnya lele dari berbagai informasi baik dari pendahulunya, penjual pakan, vitamin, suplemen, antibiotik, probiotik, pengepul dan pedagang lele.
4. Pakan alternatif lele yang digadang-gadang sebagai substitusi pakan pabrik yang murah tidak menjawab persoalan ini karena para peternak dalam membuat pakan alternatif lele mengalami berbagai kendala :
A. Pengetahuan yang minim dalam menakar pakan alternatif lele yang tepat antara kandungan nutrisi > jumlah kandungan protein, karbohidarat, lemak, air, kadar serat dan kadar abu.
B. Di wilayah tertentu tidak diperoleh bahan baku.
C. Proses pembuatan pakan alternatif lele membutuhkan proses yang memakan tempat, modal dan waktu.

KENAPA GAGAL ?

Beberapa peternak yang frustasi terus ngambek, ogah meneruskan usaha lele ini sebagian dikarenakan kesalahan peternak sendiri seperti :
1. Kurang memiliki semangat juang yang tinggi atau kurang tekun.
2. Beberapa peternak menyerahkan kepada karyawan dan hanya memberi ‘petunjuk pelaksanaan.’
3. Pengetahuan yang minim dan langsung membuat usaha dalam skala besar.
4. Terutama peternak pemula saat memulai beternak dengan mengacuhkan syarat-syarat berbudidaya lele yang baik dan benar seperti :
A. Salah memilih benih
B. Salah memilih lokasi
C. Pemberian pakan yang tidak tepat.
D. Tidak tahu cara mengatasi penyakit ikan lele.
E. Tertipu oleh pengepul nakal yang membayar belakangan dan lari atau memanipulasi timbangan.

KENAPA SUKSES ?

Peternak lele yang sukses dalam keseharian nya memiliki ciri-ciri :
1. Fokus, sabar, tidak mengenal menyerah dan tekun
2. Selalu menggali pengetahuan tentang budidaya (managemen kolam/air, pakan, iklim, benih, menekan FCR / Food Convertion Ratio)
3. Selalu melakukan kegiatan berkunjung diberbagai farm (benchmarking)
4. Selalu mengerjakan sendiri tanpa merekrut karyawan apalagi masih dalam skala kecil.
5. Membuat pakan alternatif lele sendiri untuk meminimalisir biaya.
6. Melakukan inovasi tiada akhir, selalu melakukan percobaan (trial and error)
7. Beberapa yang memperoleh sukses besar dengan memasarkan sendiri atau membuat produk olahan : lele asap, nugget, botok lele, kripik lele, bakso dan lain sebagainya.

Lantas apa benang merah dari fenomena lele ini, apakah harga pakan yang mahal menjadi biang keladi kebuntuan lele atau karena KENAPA GAGAL ? dan KENAPA SUKSES ? yang belum dipenuhi para pternak.

Forum pembaca yang terhormat,
1. Adakah solusi lain yang lebih memberi kesejahteraan peternak lele ?
2. Mungkinkah Bulog lele bisa dibentuk dan membantu menyediakan pakan murah atau turut mengendalikan harga pasar atau tetap seperti sekarang ini bermain dengan tetap mengikuti mekanisme tata-niaga agrobisnis atau mengikuti mekanisme pasar.
3. Mungkinkah jutaan kolam dan empang yang kering kerontang bisa ber-operasi lagi ?
4. Secara umum, bukankah kerugian para peternak sangat menurunkan taraf hidup peternak serta berdampak luas bagi bangsa indonesia secara keseluruhan ?

Tulisan ini dibuat atas keprihatinan yang mendalam melihat sahabat-sahabat peternak kita yang belum beruntung, kemaren saya menerima SMS dari seorang teman di Bojonegoro, dia menyerah.

Pagi-pagi sekali,
Ku tercenung dibibir danau Batur,
diantara embun yang menggelayut di dedaunan,
diantara derik serangga malam yang menggatalkan telinga.

Hari ini penat rasanya memikirkan nasib nelangsa yang dialami saudara sebangsa dan setanah air ini.
Merasa tidak ada lagi yang harus dibuat dan berharap menerima masukan dari para pembaca, tertulislah eligi sedih ini.
Sakitnya tuh disini !

Danau Batur, Bali, 2 Desember 2014
Artikel terbaru yang terkait dengan konten ini klik juga dibawah ini:

Terimakasih

induk tomo

Gambar : Indukan Lele betina matang gonad / siap pijah

Indukan dari strain masamo di Kecamatan Badegan Ponorogo milik Goes Tomo.

Sekian pesta seks bebas ini, berguna hendaknya.

kata kunci

pakan organik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>