«

»

Aug 16

Pestisida Organik VS Pestisida Kimia

Pestisida Organik VS Pestisida Kimia

Oleh Alka Wisanggeni

Salah kaprah sebutan “obat” untuk pestisida di indonesia.
Saat ini, petani Indonesia sudah menjadi pasar pestisida mungkin dengan daya belanja yang terbesar di dunia.
Kata “obat” pun sudah menjadi lumrah untuk menggantikan kata pestisida. Edukasi penggunaan pestisida pun mulai digencarkan mulai dari pola putar bahan aktif sampai sifat gerakannya (IRAC untuk insecticide, FRAC untuk fungicide).
Namun, sadarkah kita sedang dibohongi secara besar-besaran dengan kamuflase pestisida sebagai obat segala penyakit tanaman?
Mari kita ambil logika sederhana: ular ketika kita injak ekornya, akan balik menggigit kita. Demikian pula anjing, dan hewan-hewan lain. Sudah hukum alam ketika ada ancaman, hewan-hewan tersebut akan mempertahankan diri. Insting.
Bagaimana dengan serangga dan hama di pertanian? Sama.
Penggunaan pestisida kimia akan membuat hama semakin “buas”. Mereka menyerang tanaman dengan membabi-buta.
Alasannya sederhana, dgn makan sebanyak-banyaknya akan membuat peluang hidup semakin besar.
Yang hidup akan berevolusi membangun kekebalan akan suatu bahan aktif untuk generasi selanjutnya.
Kemudian terciptalah pola putar bahan aktif oleh para ahli pesticide, dgn menggunakan pola berganti-ganti bahan aktif dengan harapan bisa menghilangkan resistensi hama. Hasilnya?
Malah lahir resistensi silang.
Bagaimana kemudian nasib agrikultur saat hama sudah menjadi semakin sakti?
“Tenangno pikirmu, kawan”.
Banyak cara dari ilmu kearifan pendahulu kita, walau tidak instan namun mujarab.
Bagaimana solusinya?
Biar pak hadi saja yang menjawab.

Saya Hadi, Admin, menjawab (Tanggapan dr tulisannya Mas Alka)

Saya mulai dengan sebuah ilustrasi : Ketika saya mengisi satu sesi materi pelatihan BETERNAK SAPI di kecamatn Maesan Bondowoso. Salah satu peserta menceritakan bahwa dia kapok memberi pakan sapi yang berasal dr hijauan dari limbah pasar karena sapinya tiba-tiba mencret dan nafsu makan menurun. Peternak sapi yang cukup cerdas ini berhasil menganalisa bahwa penyebabnya adalah sayur mayur limbah pasar seperti wortel, kacang panjang, kangkung, sawi, kol dan lain-lain karena diberi pupuk kimia, fungisida kimia, pestisida kimia. Begitu dahsyatnya dampak yang ditimbulkan “OBAT OBAT INI” baik itu terhadap tanah, air dan udara. Tanpa sadar, penurunan kesehatan dimasyarakat terjadi secara massal : Diusia masih muda gigi sudah rusak, mata minus, rambut mudah rontok, gampang lelah, obesitas, diabetes dan stroke diusia dini akibat akumulasi pencemaran udara, air dan tanah ditambah lagi pencemaran akibat mercury dan timbal industrialisasi, menipisnya ozon, kepadatan penduduk dan pemanasan global. Berlangsung sepanjang waktu.

Kampanye bahwa kejahatan terbesar adalah korupsi, terorisme dan narkoba. Pestisida kimia tidak termasuk dalam daftar kejahatan. Kampanye bahwa pestisida kimia adalah “obat mujarab” tentu datang dari distributor / importir pestisida kimia. Wereng sekarang bisa dihalau dengan ramuan organik oleh teman saya di Magetan.

Kutu kebul, kaper dan hama trip ternyata bisa dilumpuhkan oleh pestisida nabati. Tapi stigma yang diterima “PETANI MODERN” kinerja pestisida herbal dinilai berjalan lambat.

Tdk ada kampanye : bahwa pestisida nabati bekerja secara MUTUAL. Gambaran praktisnya jika pupuk nabati tahun ini penggunaannya 1 kg tahun dan depan cukup 0,8-0,9kg. Pestisida kimia bekerja secara PARSIAL, tahun ini pupuk kimia menghabiskan 1kg tahun depan terpaksa ditambah jadi 1,2-1,4kg plus kerusakan mutu tanah.

Bertanyakah anda ???

Mengapa kehebatan pestisida nabati minim publikasi ???

Yeah ………., Saya mengajarkan pemberontakan ??? Ya … Caranya adalah : Saya mulai dari diri sendiri untuk tidak gunakan pupuk kimia, pestisida kimia apapun yang saya tanam. Saya berani bertaruh : kesehatan saya, fisik saya lebih bagus dibanding petani yg gunakan produk kimia.

Balik kepada para kartel yg kuasai hegemoni ini dan yang dengan mudah merubah undang-undang dan peraturan agro. Bagi tidak berprofesi sebaga petani materi tulisan dr Mas Alka ini tentu tidak menarik. Tapi anda menerima dampak dari obat obat ini.

Sederhana saja : Sudahkah perkedel kentang yang kita konsumsi bebas dr timbal, mercury, e-colli ???

Ikan-ikan disungai menghilang. Cacing sutra terkontaminasi genetik baru dari jamur aeromonas. Kutu kebul dan wereng daya tahan tubuhnya semakin kuat. Anak gadis SD kelas 5 payudaranya besar diatas ukuran normal akibat mengkonsumsi ayam broiler yg ditangani dengan vaksin kimia dan diatas ambang toleransi cemaran mikroba yg di tetapkan BPOM.

Begitu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>