«

Mar 28

Pupuk Air Organik Peningkat Mutu Air

Pupuk Air Organik Peningkat Mutu Air

Pupuk Air Organik (PAO) atau Organic Water Fertilizer (OWF)

Oleh : Hadi Winarto, Lumajang 29 Maret 2018

Pupuk air organik peningkat mutu air, saat ini mulai populer di Indonesia dan para peternak sudah mulai meninggalkan dan mengurangi pupuk sintetis atau pupuk kimia. Negara Venezuela adalah pelopor dalam penggunaan pupuk air didunia dan digunakan untuk semua jenis budidaya ikan.

Kelebihan pupuk air organik adalah :

  • Meningkatkan kwalitas air secara menyeluruh.
  • Meningkatkan pertumbuhan zoo-plankton (penghasil leusin terbaik), jasad renik dan biota air yang berguna sebagai pakan alami ikan dan udang.
  • Menstabilkan suhu air.
  • Menstabilkan pH air.
  • Mengurangi residu dalam air.
  • Mempercepat proses pembusukan amoniak dan mengubah menjadi plankton.
  • Mengurangi bau air.
  • Tidak ada pergantian air hingga panen bahkan air bisa digunakan kembali untuk periode budidaya berikutnya melalui proses ozonisasi dan oksigenisasi kembali.
  • Lebih aman dan lebih murah dibandingkan penggunaan pupuk kimia, untuk 1000 liter hanya Rp.30.

Melaporkan bahwa kami baru saja melakukan uji lapangan dengan kontrol utama adalah aplikasi pupuk air organik pada ikan nila.

Sistem                                  : Resirkulasi

Jumlah kolam A                  : 2 buah, masing-masing luas 40m2, ke-2 kolam terhubung (resirkulasi)

Jumlah kolam B                  : 2 buah, masing-masing luas 40m2, ke-2 kolam terhubung (resirkulasi)

Penggunaan pupuk air

Kolam A :                                 Bulan ke-2, 4 liter

Bulan ke-3, 4 liter

Bulan ke-4, 4 liter

Kolam B                                : Tidak menggunakan pupuk air

Lokasi                                    : Lumajang Jawa Timur

Jenis nila                              : Monoseks, Gift (hitam)

Jenis kolam                         : Semen

Jumlah benih/kolam          : 4000 ekor (total semua 4 kolam 16.000 ekor)

Kepadatan tebar /m2         : 100 ekor

Jenis pakan                         : 781

Rata-rata suhu siang         : 30-32

Rata-rata suhu malam       : 25-26

Ukuran mulai tebar              : 3-5 cm

Lama panen                          : 5 bulan

Bobot panen                          : Kolam A 8000 ekor motalitas 0,47% = 47 ekor

Kolam B 8000 ekor mortalitas 0,53 = 53 ekor

FCR                                         : Kolam A 1,15 Kolam B 1,29

pH                                            : 6,8-7,1

Oksigen                                  : 6 ppm

Amoniak                                  : 11%

Vitamin                                    : 10 mg/kg pakan

Alat – alat yang digunakan pada ke-2 kolam :

  • Kolam sistem resirkulasi.
  • Pompa celup, 1 buah, 100 watt kapasitas 25 liter permenit hidup 24 jam (taruh ada pada bak filter)
  • Mesin nanobubble, 11 buah, hidup 6×2 jam, menghasilkan kadar oksigen 6ppm (taruh pada bak filter)
  • Mesin ozon (ATM) 2 gram, 1 buah, hidup 4×1 jam, membuang bacteri pathogen hingga 9% (taruh pada bak filter)
  • Enzim 2 ml untuk 1 kg pakan (bibis pada pakan, fermentasi 8 jam)
  • Aerator 1 buah/kolam, hidup 24 jam (taruh pada tiap kolam)
  • Bak filter (kolam filter) 11 buah, ukuran panjang x lebar x tinggi : 150cm x 50cm x 80cm

Untuk sementara hasil ini cukup memberikan harapan cerah, pada riset sebelumnya tanpa melengkapi infrastruktur seperti penggunaan mesin nanobubble, ATM, resirkulasi dan hanya memanfaatkan enzim, vitamin dan tebar 20ekor permeter FCR mendarat diangka buruk 1,6.

Belum bisa dibuat sebuah kesimpulan alat mana yang paling dominan memberi kontribusi tertinggi dalam berbudidaya ikan namun sahabat kami para ahli di Indonesia dan luar negeri yang kami hubungi bahwa resirkulasi berada di peringkat puncak infrastruktur yang paling diperlukan. Dan saya mengamini.

Data ini, dibutuhkan banyak pengujian lagi misalnya jika kadar oksigen dinaikkan menjadi 9 ppm, jika disparitas suhu bisa diperpendek lagi, jika menggunakan pakan buatan sendiri, kepadatan tebar ditambah atau dikurangi, ozonisasi diperbesar lagi, pemanfaatan enzim, vitamin, memperbesar jumlah tebar hingga 150 ekor/meter bahkan lebih, pemanfaatan enzim dan jenis-jenis enzim dan keakuratan dosis yang digunakan seperti enzim amilase, selulose, nitrogenase, protease, papain, bromelin, lipase, fitase dan lumbrokinase. Ketepatan dosis pada vitamin B, C, E, lisin, metionin dan leusin. Dll.

Tebar 100 ekor/meter yang kami lakukan sudah banyak yang mencobanya dan faktor lambatnya pertumbuhan yang menjadi kendala hingga para peneliti kembali mundur pada tebar 20 ekor/meter.

Untuk tebar 20 ekor/meter dengan infrastruktur sama dengan diatas menghasilkan FCR 1,05. Bagi peternak nila yang memiliki lahan luas tentu riset ini diabaikan saja dan bagi pemilik lahan sempit seperti di pulau Jawa sistem ini penting termasuk ikan lele, sepat, baung, bawal, bandeng, udang, patin, gabus, betutu, sidat, belut maupun ikan hias.

Pembuktian pupuk air organik di lapangan

Penyelamatan menjelang panen

Jenis ikan                            :   Nila dan bandeng

Waktu                                    :   Oktober 2017

Lokasi                                   :   Kalialo Telocor Pandaan Jatim

Luas lahan                          :    7 HA

Lebih kurang 45 hari ikan tidak ada nafsu makan, saat air pasang pada tengah malam tambak ditebar pupuk air organik sebanyak 200 liter lewat pintu masuk air. Oleh penjaga tambak keesokan harinya jam 16.00 sore dicoba memberi pakan pelet dan diluar dugaan ikan berebut pakan. 3 hari kemudian ikan-ikan terlihat sehat. Riset lebih lanjut dibutuhkan uji laboratorium tentang mutu air ini.

Pupuk cair organik membuat udang bahagia.

Jenis ikan                            :   Udang

Waktu                                    :   Maret 2018

Lokasi                                   :   Cilegon Banten

Luas lahan                           :    0,5 HA

Aplikasi pada udang sama dengan kasus diatas, pupuk diberikan 15 liter kedalam kolam seluas 5000 m2, keesokan hari nya udang-udang mulai bergerak lincah, nafsu makan meningkat. Pemilik Pemula yang baru memulai usaha budidaya udang ini sudah putus asa dan hendak menutup kegiatan tambak udang ini. Filosofi dari para penggiat budidaya ikan yang sedang viral adalah : Buatlah Ikan Bahagia Dengan Memperhatian kwalitas air. Berbudidayalah air, bonusnya lele, udang, nila, gurame, bawal dan lain-lain.

Menekan Mortalitas Ikan Nila

Jenis ikan                            :   Udang

Waktu                                    :   Agustus  2017

Lokasi                                   :   Kedung Telocor

Luas lahan                           :    1,9 HA

Disaat benih berukuran 2 jari, waktu itu setiap hari prosentase kematian sangat tinggi, setiap hari ratusan ikan mati bergelimpangan. Saran akhirnya didapat, tambak seluas 1,9 HA diberi pupuk air organik ini sebanyak 80 liter. Dalam waktu 72 jam kematian sudah tidak ada dan setiap 2 minggu diberi 20 liter pupuk air  organik ini hingga panen. Sejak itu kematian tidak diatas 0,5%.

Mempercepat pertumbuhan di segmen pendederan

Jenis ikan                            :   Udang Windu dan Bandeng

Waktu                                    :   Desember  2017

Lokasi                                   :   Tambak Gendar Pandaan Jatim

Luas lahan                           :    0,8 HA

Tambak seluas 0,8 HA disiapkan untuk pendederan windu dan bandeng. 7 hari setelah setelah pengeringan kolam lalu diisi air serentak dengan pupuk air organik sebanyak 80 liter, 7 hari kemudian nener ditebar, setiap 2 minggu ditebar 225 liter. Hingga 55 hari (angka yang umum 60-65 hari) nener sudah di pindah ke kolam pembesaran. Dalam periode ini kematian 0,1% dibanding periode sebelumnya 5-10%. Kisah ini menjadi berita getok tular di 65 HA tambak disekitarnya.

Saat ini sedang berlangsung perlakuan (treatment) pupuk kolam cair ini  didaerah Palu (nila), Aceh (bandeng), Banyuwangi (nila dan lele), Lumajang (lele), Jember (gurame, nila dan lele) , Bekasi (lele), Sidoarjo (udang) Tangerang (lele) Dalam tempo tidak terlalu lama kami akan menerima laporannya kami akan rilis progress disini.

Demikian. Penelitian ini masih jauh dari kata sempurna, dibutuhkan ratusan variabel penelitian lebih mendalam lagi. Namun demikian jika menilik data diatas terutama pada hasil FCR dan kepadatan tebar penulis optimis peternak Indonesia akan menguasai teknologi budidaya perikanan terbaik didunia. Seyogyanya ini sudah mendekati hasil maksimum jika amoniak bisa dikurangi minimum 5 %, oksigen 7-8-9, dan jumlah gerakan air tepat, nilai nutrisi tepat, kepadatan tebar tepat, temperatur air tepat, jumlah bacteri patoghen dibawah 5%. Dan entah apa lagi yang penulis sendiri tidak tahu.

Jika para pembaca punya ide dan gagasan lebih baik untuk menghasilkan teknik berbudidaya diluar dari uji coba yang sedang kami lakukan segeralah dibagikan agar semua merasakan faedahnya dan ini adalah sebagai wujud amal yang nyata.

Resirkulasi

resirkulasi sederhana

Bak filter

nanobubble

Keterangan

– Pupuk organik tidak bisa digunakan sebagai media fermentasi

– Tidak bisa dibibiskan ke pakan

– Digunakan pada waktu hari pertama persiapan kolam dan tiap 25-30 hari sekali

– Aplikasi 100 liter untuk luas kolam 1 HA

 

Pupuk Air Organik peningkat Mutu Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>