«

»

Dec 23

Reklamasi Tambang Nikel Berbasis Agroforesty

Reklamasi Tambang Nikel Berbasis Agroforesty

Oleh Ir Supriyanto Hidayatullah

Reklamasi merupakan kewajiban bagi Perusahaan yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP). Umumnya kewajiban tersebut dianggap beban bagi sebagian besar perusahaan pertambangan. Tk jarang kewajiban reklamasi tidak dilaksanakan setelah deposit tambang habis dan meninggalkan kerusakan lingkungan. Fakta iini banyak dijumpai di wilayah Indonesia yang mempunyai kekayaan alam bahan tambang : batubara, timah, tembaga, emas, nikel dll. Kerusakan terlihat nyata, bila tidak dilakukan reklamasi maka akan timbul bencana banjir, longsor dan masalah sosial kemasyarakatan.

A. Reklamasi dan Usaha Pertambangan yang Berkelanjutan

Selama ini reklamasi lahan pasca tambang dianggap sebagai beban usaha (cost) dan dalam pelaksanaannya anggaran minim dan asal-asalan (ditanami dengan pohon-pohon yang cepat tumbuh dengan pemeliharaan minim). Mengakibatkan kondisi tambang memprihatinkan. Lahan yang semula subur menjadi lahan kritis karena pengelolaan pertambangan yang tidak berwawasan lingkungan.
Dengan planning yang baik, reklamasi yang semula dianggap sebagai cost dapat diubah menjadi profit dan akan memperpanjang kelangsungan usaha di lokasi tersebut. Salah satu hal yang penting dalam mendukung keberhasilan reklamasi adalah konsistensi dalam pelaksanaan back fill lahan yang sudah diambil bahan tambangnya (terutama dalam menjaga lapisan top soil yang subur agar bisa ditempatkan pada lapisan atas kembali). Selain itu juga pembuatan terasering untuk mengurangi run-off dan memudahkan dalam pelaksanaan reklamasi. Memang tidak mudah tetapi apabila direncanakan dan adanya pengarahan yang baik di lapangan, hal ini dapat dilaksanakan mengikuti kegiatan operasional pertambangan. Apabila hal ini dapat dilaksanakan maka reklamasi yang dilakukan dapat dikembangkan menjadi usaha profit agoforestry. Reklamasi di design dengan penanaman pohon yang bernilai ekonomi cukup tinggi yang di combine dengan tanaman yang menghasilkan bahan pangan dan bahan baku industri. Tentu hal tersebut harus direncakan dan dilaksanakan secara bertahap.

B. Hasil Survey dan Rencana Reklamasi

Survey dilaksanakan untuk mengetahui secara langsung kondisi di lokasi pertambangan yang berkaitan dengan fisik lahan, agroklimat, vegetasi yang ada dan sarana pendukung di lokasi untuk pelaksanaan rekalamasi. Pada tanggal 17 –22 April 2012 telah dilakukan survey di beberapa lokasi tambang nikel, yaitu : di Desa Ganda-ganda dan Towi (Kolonedale), desa Onoete (bungku), dan desa Torobulu (Konawe Selatan). Berdasarkan hasil survey, diketahui bahwa lokasi yang paling siap pembangunan nursery, yaitu tempat untuk memproduksi berbagai jenis bibit tanaman yang akan digunakan untuk program reklamasi lahan bekas tambang nikel atau lokasi tambang yang depositnya rendah (tidak ekonomis apabila dilakukan eksplorasi)
Lokasi tambang nikel PT. Integra yang berada di Desa Torobulu ini mempunyai beberapa kondisi yang mendukung sebagai tempat Nursery, antara lain :
Adanya sumber air tanah yang cukup untuk memelihara tanaman di Nursery sepanjang tahun. Air tawar ini berasal dari mata air yang keluar dari salah satu lubang galian yang debitnya cukup besar. Selain dapat dimanfaatkan untuk memelihara bibit tanaman di Nursery, sumber air tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha pertanian di sekitar lokasi tersebut.
Tersedia lahan yang cukup luas dan datar sebagai tempat Nursery.
Tersedia tenaga kerja dari desa di sekiatar lokasi.
Potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan beberapa jenis tanaman kayu untuk penyediaan bahan baku industri pengolahan kayu dan bahan bangunan.

C. Pembangunan Nursery

Ketersediaan bibit merupakan pendukung suksesnya program reklamasi. Bibit yang dipilih harus mempunyai daya adaptasi yang baik untuk kondisi lahan tambang. Bibit tersebut dikembang-biakan disekilar lokasi dengan membangun fasilitas pembibitan (nursery) yang disesuaikan kapasitas produksinya berdasarkan kebutuhan bibit yang diperlukan. Pembangunan fasilitas pembibitan tersebut dapat dibuat dari bahan-bahan yang tersedia di lokasi, namun tetap memenuhi persyaratan tumbuh bibit.
Pada umumnya nursery untuk pembibitan tanaman terdiri dari beberapa bagian untuk mendukung semua tahapan proses pembibitan, yaitu : gudang untuk menampung bahan baku media tanam (top soil, arang sekam, kompos, dll), ruang kerja untuk pencampuran dan pengisian media tanam ke dalam polybag, ruang untuk penaburan benih, ruang untuk aklimatisasi (untuk perbanyakan bibit dari kultur jaringan atau mini cutting), ruang/area shading (untuk pembesaran bibit), ruang/area terbuka (untuk adaptasi bibit sampai siap tanam). Fasilitas pendukung utama yang diperlukan adalah tandon air dan instalasinya untuk penyiraman bibit.
D. Model Reklamasi Lahan Pasca Tambang
Sebagaimana dimakhlumi bahwa sumberdaya lahan ini luasnya semakin berkurang sehingga perlu dijaga kelestariannya agar bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat yang ada di sekitarnya. Begitu juga dengan lahan-lahan pasca tambang, harus dilakukan upaya-upaya untuk memperbaiki kondisinya (reklamasi). Timbunan tanah diratakan, bekas lubang galian ditimbun, dan pada kontur lahan yang miring dibuatkan terasiring. Penataan fisik lahan pasca tambang ini sangat membantu pelaksanaan reklamasi yang akan dilakukan selanjutnya.
Secara umum kondisi lahan pasca tambang dalam kondisi kritis sehingga dalam kegiatan reklamasi tersebut dilakukan upaya-upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah. Sejalan dengan itu pada umumnya kegiatan reklamasi meliputi penanaman tanaman penutup tanah atau tanaman pioner untuk mengendalikan erosi dan penanaman pohon yang mampu mencegah terjadinya tanah longsor. Pada akhirnya reklamasi lahan diharapkan mampu meminimalkan dampak negatif akibat proses penambangan dapat diminalisasi dan mengembalikan fungsi lahan untuk berbagai keperluan.
Lahan pasca tambang yang telah direklamasi mempunyai potensi untuk pengembangan usaha di bidang kehutanan dan pertanian (Agroforestry). Pemilihan jenis tanaman selain mempertimbangkan daya adaptasinya juga yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi atau tanaman yang mendukung penyediaan bahan baku industri. Dalam hal ini model reklamasi yang akan dilaksanakan menerapkan sistem Agroforestry Terpadu. Pada skala luas tertentu reklamasi berbasis Agroforestry Terpadu ini dapat mendukung pengembangan Industri Kehutanan (Industri Pengolahan Kayu, Meubel, dll) dan Industri Pertanian khususnya dalam penyediaan pangan (mendukung ketahanan pangan nasional).
Tanaman Kehutanan sebagai tanaman utama yang berfungsi sebagai penghasil kayu untuk berbagai keperluan Industri pengolahan kayu dan meubel, serta penyangga lingkungan untuk mencegah bencana alam seperti tanah longsor dan banjir, selain itu juga juga mampu memperbaiki iklim mikro di sekitar lokasi (konversi CO2 menjadi O2).

Reklamasi dan Pengelolaan Lahan Pasca Tambang oleh Koperasi
Selama ini masyarakat yang hidup di sekitar lokasi pertambangan, mungkin hanya bisa menikmati sebagai pekerja tambang, sedangkan royality dibayarkan kepada PEMDA. Namun apabila terjadi dampak negatif akibat operasional pertambangan tersebut yang akan merasakan adalah masyarakat yang tinggal di sekitar pertambangan. Berkaitan dengan hal tersebut, sebaiknya perusahaan pertambangan melibatkan masyarakat sekitar sejak awaldalam menyiapkan reklamasi dan pengelolaan lahan pasca tambang. Keterlibatan masyarakat tersebut dilakukan secara kolektif dalam bentuk organisasi yang jelas, misalnya koperasi. Kegiatan usaha koperasi ini selain untuk mendukung operasional pertambangan juga diberikan kepercayaan dalam pelaksanaan rekalamasi lahan pasca tambang dan pengelolaan selanjutnya.

Perusahaan pertambangan akan memberikan modal usaha awal, pelatihan manajemen koperasi, dan pendampingan tenaga ahli yang kompeten di bidangnya dan pemasaran. Keberadaan koperasi ini mestinya bisa mendukung kegiatan operasional pertambangan misalnya dalam penyediaan logistik (konsumsi dan kebutuhan sehari-hari pekerja tambang, kebutuhan bahan bakar alat berat), serta persiapan dan pelaksanaan reklamasi lahan pasca tambang (mulai dari penyiapan bibit yang diperlukan untuk reklamasi lahan, pelaksanaan reklamasi, pemeliharaan dan pengelolaannya dalam jangka panjang). Dengan demikian perusahaan akan lebih fokus pada operasional pertambangan yang didukung oleh koperasi.

Koperasi ini diharapkan bisa berkembang tidak hanya pada saat adanya kegiatan pertambangan tetapi akan tetap tumbuh dengan mengelola usaha di bidang AGROFORESTRY TERPADU hasil reklamasi lahan pasca tambang. Kombinasi tanaman kehutanan yang cepat tumbuh (fast growing trees) dengan berbagai tanaman pertanian akan menghasilkan bahan baku industri dan bahan pangan dapat dikelola oleh Koperasi menjadi bisnis yang menguntungkan.

Terimakasih

Reklamasi Tambang Nikel Berbasis Agroforesty

3 comments

  1. business Loans

    whoah this weblog is great i love studying your articles. Keep up the good paintings! You already know, lots of persons are looking round for this info, you can help them greatly.

  2. Eduction

    I am not sure where you’re getting your info, but good topic. I needs to spend some time learning much more or understanding more. Thanks for excellent info I was looking for this info for my mission.

  3. Archery

    I will immediately take hold of your rss as I can not find your email subscription hyperlink or newsletter service. Do you’ve any? Please permit me realize in order that I could subscribe. Thanks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>