«

»

Sep 18

Tiga Karakter

Tiga Karakter

LELE DAN TIGA SAHABAT

Oleh : Hadi Winarto

Sahabat pertama namanya Eka, sahabat kedua bernama Eki, sahabat ketiga namanya Eko, ketiganya punya minat yang sama yaitu Agrobisnis. Ketiganya sepakat ingin memulai  bisnis yang sederhana, tidak ribet dan resiko kecil.  Bahkan mereka ingin memulai dalam skala hiburan dulu, cukup dengan 1000 benih lele dan memanfaatkan lahan yang berada dibelakang rumahnya masing-masing.

Eka, tidak menunggu lama sudah ‘’siap” segala sesuatu yang dibutuhkan dalam rangka usaha pembesaran lele. Eka merasa sambil berjalannya  waktu akan menuntunnya mendalami bagaimana  cara beternak Lele. Berbekal pengetahuan sedikit dan  referensi yang diperoleh dari pendahulunya. Setelah berbilang hari sekitar 3 bulan, tibalah masanya panen perdana. Setelah dipanen dan dihitung, dikalkulasi, sambil sedikit menganalisa Eka memberi kesimpulan dengan sedikit mengeluh, ternyata kok klop gitu ya, ga untung ya ga rugi. Hal ini menjadi tanda tanya yang terus menggelitiknya sepanjang hari.

Demikian juga dengan Eki, tanpa pikir panjang Eki pergi kepasar berbelanja kebutuhan lele seperti terpal, serok dan lain-lain, seperti Eka, setelah waktunya panen Eka membuka catatan pengeluaran, berapa biaya operasional, bak seorang manager keuangan sebuah perusahaan. Eith, wajah Eki sumringah, setelah ditimbang jumlah lele yang dipanen dengan pengeluaran selama budidaya Eki menghitung bahwa penghasilan selama periode panen menggembirakan hatinya. Padahal  harga lele konsumsi ditingkat peternak sedang anjlok. Ya ya ya …

Berbeda dengan  Eko, tatkala mereka bertiga 3 bulan yang lalu merencanakan hendak terjun ke budidaya lele, Eko  memulai dengan membeli buku-buku lele, menjelajah di internet bahkan melakukan benchmarking alias try-out diberbagai kolam lele milik tetangganya, pergi didesa tetangga bahkan terlihat sibuk menghubungi teman-teman diluar kota yang lebih dahulu beternak lele.

Melihat 3 perkara diatas,  kenapa Eka tidak memperoleh hasil apa-apa ternyata Eka menggunakan pakan pelet buatan pabrik yang tentu saja mahal yang membuat biaya operasionalnya tinggi,  tapi Eka telah menyadari sedikit kekeliruannya itu.

Lain halnya dengan Eki, Eki dengan jeli berusaha memanfaatkan pakan lele yang dia buat sendiri bahkan Eki dengan senang hati pagi-pagi datang kepasar untuk mengambil limbah ikan dan limbah sayur yang melimpah ruah dipasar. Dengan melakukan teknik fermentasi sederhana, tanpa banyak biaya Eki sukses beternak lele walaupun baru pertama kalinya.

Lalu bagaimana dengan Eko, Ada apa dengan Eko ?, sampai detik ini Eko hanya berkutat dengan teori-teori lele, disaat kedua temannya sudah menemukan apa yang menjadi impiannya dan menetapkan bahwa lele bisa menjadi usaha tambahan bahkan menjanjikan. Eko hanya bersitungkul dengan berbagai perhitungan, berbagai perencanaan atau barangkali mungkin Eko punya perhitungan lain ? Atau Eko  takut terlihat bokek tapi malu mengakuinya.

Pembaca, adakah pesan moral yang terkandung pada kisah diatas ?

apa opini pembaca ? kalau penulis berpendapat, hal yang paling mungkin menuju sukses adalah  : action !

 

Terimakasih, telah membaca Tiga Karakter, salam sukses

PP booster fish

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>