«

»

Dec 12

Toleransi Orang Minang

Toleransi Orang Minang

Oleh : Hadi Winarto

Managemen

Saya baru mengerti saat adik saya mengungkapkan alasannya jika hendak menjamu tamu dari kantornya dia lebih memilih Restoran Padang di banding restoran China, Jawa, Pasundan atau lainnya, alasannya ada 3 hal :

  1. Restoran Padang secara umum memiliki standard harga yang tetap, artinya jarang sekali restoran Padang yang mahal (mesti ada juga yang mencekik leher) hal ini terkait didalam rumah makan Padang menerapkan sebuah managemen pola bagi hasil, disebut dengan istilah Mato.

Mato, managemen ini memiliki divisi-divisi atau pembagian, sistim kerja yang merujuk unit kerja, pola-pola ini terlihat seragam baik di Sumatera Barat maupun di manca negara sekalipun. Yang membedakan nya persentase pembagian, waktu pembagian (biasanya 100 hari) dan tergantung besar kecilnya usaha.

Struktur orhanisasi (job position) dan program kerja (job discription) secara umum terbagi

  1. Investor/pemodal.
  2. Juru masak/koki, memiliki pembantu tergantung besar kecilnya usaha.
  3. Pramusaji
  4. Front office/kasir.
  5. Cleaning service.

(Mohon koreksi ya, jika salah)

  1. Penyajian rumah makan padang cepat (restoran cepat saji yang sebenarnya), dimulai dengan suguhan air putih terlebih dahulu di atas meja pelanggan, disusul dengan tumpukan puluhan piring ditangan kiri berisi berbagai menu. (yang kidal ga boleh jadi pramusaji, kali ya) anda bisa rasakan perbedaannya, sebagian jika kita makan didaerah Jawa sampai sudah ludes hidangan di meja makan anda air minum tak kunjung datang.
  1. Restoran padang memiliki meja front office/ front liner. (biasanya didekat pintu masuk) Managemen ini memberi informasi harga dan menu apa saja yang disantap, tercatat.

Ciri khas yang lain secara umum restoran Padang dilayani oleh pria, terutama restoran besar (meski ada juga pelayan wanita terutama dikasir atau restoran kecil yang dikelola suami-istri)

Toleransi Orang Minang

Terkait dengan judul diatas Toleransi Orang Minang dengan materi konten ini maksudnya orang Minang adalah orang moderat, yang menerima budaya atau kulturisasi dari daerah lain, coba saja anda datang ke desa-desa, anda akan disambut hangat seperti halnya saya yang dari Purwokerto beberapa tahun berdomisili di Belakang Balok bukittingi tidak pernah mengalami benturan sosial maupun urusan pekerjaan.

Nah, ini dia, dalam urusan lidah dan perut orang Minang tidak kompromi, paling tidak bisa diajak hijrah lidah, seperti pengalaman saya pernah membawa seorang karyawan ke kota Amuntai Kalimantan selatan, beberapa tahun di Amuntai, Hosnel nama karyawan saya itu tetap saja katanya, “masakan amak ambo nan lamak,”  nah, tuh, untuk masalah lidah dan galang-galang (minang : usus) orang Minang tidak toleran dan saya mengakuinya.

Setelah rendang dianggap makanan paling enak versi CNN, penulis sebenarnya tidak meletakkan rendang sebagai yang paling enak, gulai itik Koto Gadang jika disantap dengan lalapan jamu (jariang mudo) alias jengkol muda saya bisa ‘tambuah ciek’ (Minang :tambah satu piring lagi) padahal saya tambah 2 piring, gajeboh dari Magek saya suka banggget. Martabak Kubang kalah dech martabak dari Mesir itu, (Magek dan Kubang nama daerah dekat Bukittinggi)

Hanya seminggu pertama saya di Sumbar untuk tidak suka dengan ‘teh talua’ (teh telor) yang segar dan menyehatkan, setelah 1 minggu, teh telur jadi minuman paling favorit dibanding minuman apapun. Pangek, sempadeh, ayam pop, nasi kapau di pasar lereng Bukittinggi berjubel wisatawan menikmati ratusan kuliner. Jika anda meneruskan penelusuran kuliner Sumatera Barat, di Piaman laweh (Kota Pariaman yang luas) anda pasti akan kekurangan waktu menjelajahi berbagai menu, ikan bakar dari Pariaman saya klaim ‘lamak bana rasonyo’ makna lebai nya ‘melampaui batas kenikmatan’ dan akan mengabaikan ‘mintuo lalu’ (maksudnya sampe lupa kalo mertua lewat dihadapan kita)

Ditepi danau Maninjau anda akan ditawari ramah penjaja palai rinuak atau pepes rinuak (ikan kecil sebesar teri danau Maninjau) rasanya sedap tapi pedes eh pedes tapi sedap. Tiap kota di Sumbar memiliki ciri khas masakan : Sicincin, Bonjol, Singkarak, Sawah lunto, Solok, Lubuk sikaping, Talu, Lubuk basung, Batusangkar, Payakumbuh semua restoran padang memiliki  brand logo yang sama   yaitu rumah adat yang disebut gonjong.

Makna dari kisah ini lumrah adanya jika lidah orang Minang tidak bisa diajak selingkuh alias tidak ada toleran.  Satu hal yang sudah berlangsung lama : Penataan (lay-out), rasa, pelayanan, sistim penggajian di restoran Padang menganut hukum syariah dengan Memorandum Of Understanding (MOU) yang transparan.

Sebenarnya kuliner enak di Indonesia banyak, ada satu kota namanya Bangkinang, Ibukota Kabupaten Kampar di Propinsi Riau, disitu juga tidak kalah dengan ‘taste’ masakan Padang hanya saja orang Bangkinang belum memiliki sense of business seperti orang Sumatra Barat. Tapi ga papa, khasanah kuliner Indonesia tidak akan pernah pudar, bakso sudah menjadi hegemoni orang Solo tiada tanding, Sop ikan, bumbu rica-rica milik saudara kita dari Menado, Jogja, Betawi, Bandung, Aceh, Lamongan, Soto Banjar dan tidak dapat ditulis dalam kalam yang singkat disini.

Bersyukurlah

Finally, akhir manuskrip ini, satu lagi makanan paling maknyus, top markotop, jos gandos dan special taste,  penulis meletakkan nya diperingkat paling puncak, bukan samba lado tanak, bukan jangek kuah, cincang, pangek, pisang panggang, karupuak sanjai, gajeboh, randang, ampiang dadieh, cincang atau gulai itik,  tapi pilihan jatuh pada Sate nya. Bukti empiris dapat saya paparkan, di Kabupaten Tabalong Propinsi Kalimantan Selatan menurut data disana orang Minang hanya 24 Kepala keluarga (tahun 2005) namun sudah ada penjual sate Padang, wow, pede bingit khan ! bersama rendang, Sate Padang terbukti sudah go public. Sate Padang bumbu kuah warna kuning, ketupat, ditaburi bawang merah goreng saya rela menyantapnya untuk sarapan, makan siang, sebagai camilan sore hari atau party night.

Dan lokasi ideal sate Padang dan sudah terkenal ke antero negeri terletak di Padang Panjang, pemiliknya bernama Syukur dan masyhur dengan sebutan sate syukur, jika anda pernah menyantap sate syukur ditambah teh telor seperti saya, ya syukurlah.

 

 

sate padang

 

Jreng … jreng… jreng

Babendi bendi ……. ka sungai Tanang….., aduhai sayang 2x
Singgah lah mamatiak……, bungo lambayuang 2x

Hati siapo indak ka sanang……., aduhai sayang 2x
Maliek rang mudo….., maliek rang mudo……, manari payuang 2x

Maliek rang mudo…manari payuang………

jreng… jreng…jreng

Hadi Winarto, Banyuwangi, 12 Desember 2014, Jawa timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>